Di
kalangan masyarakat setempat Sayid Abu Bakar dikenal juga sebagai Mbah Santi
Puspo atau Mbah Imam. Ia dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai salah satu
penyebar Islam yang yang tertua di daerah Lasem dan sekitarnya. Di daerah itu,
Sayid AbuBajar menyebarkan agama Islam bersama dengan murid-muridnya. Ia
Mendirikan pesantren di kawasaan dususn Caruban yang dikelililingi oleh
perkanpungan penduduk. Dusun ini letaknya tidak jauh dari pantai, yaitu sekitar
200 meter saja. Berdasarkan penelituian archeologi situs Caruban merupakan
salah satu situs tertua sebagai perkampungan pada masa awal kota lasem.
Setelah meninggal, Sayid Abubakar
dimakamkan didusun Caruban, desa Gedongmulyo, kecamatan Lasem bersama dengan
para santrinya. Bahkan pada saat ini kompleks makam itu juga digunakan oleh
penduduk sebagai tempat pemakaman umum. Makam Sayid Abubakar berada di dalam
bangunan cungkup sederhana yang aslinya terbuat dari bata merah yang
kemungkinan berasal dari sekitar abad XV. Sementara itu serambi cungkup
tampaknya merupakan bangunan baru yang berfungsi untuk ruang tunggu para
peziarah. Jirat makam ini masih relatif baru karena sudah berbahan semen.
Menurut keterangan yang ada memang aslinya makam ini tidak berjirat. Adapun nisan
makam ini masih sli yaitu nisan yang berbentuk kurawal berhiaskan motif
sulur-sulur dan berbahan batu karang. Di sebelah timur batu cungkup terdapat
batu bata yang berserakan dan bekas pondasi persegi panjang keliling.
Kemungkinan sisa-sisa pondasi dan batu bata tersebut merupakan tembok keliling
makam yang sudah lapuk dimakan usia. Namun demikian ada yang mengatakan bahwa
serakan batu bata dan fondasi tersebut merupakan bekas candi pra-Islam yang
sudah rusak. Belum jelas apakah bekas candi itu candi itu kemudian difungsikan
sebagai mushola bagi orang islam atau dibiarkan begitu saja. Aneh sekali bahwa
tanah yang berada di dalam di sebelah timur makam Sayid Abubakar ini lebih
tinggi posisinya dibandingkan dengan letak makam itu sendiri. Sebelum mencapai
pintu masuk cungkup makam ini terdapat sumur tua yang diyakini sebagai sumur
peninggalan Sayid Abubakar.
Sabtu, 22 September 2012
Rabu, 05 September 2012
OBYEK WISTA UTAMA REMBANG (6) KOMPLEKS TAMAN REKREASI PANTAI KARTINI
Taman Rekreasi
Pantai Kartini (TRPK) sebetulnya sudah dikenal masyarakat Rembang dan
sekitarnya sejak jaman penjajahan Belanda. Pada jaman Kolonial Belanda, di
samping digunakan sebagai tempat rekreasi, TRPK juga digunakan untuk
kepentingan lain yaitu untuk melakukan pengawasan terhadap lalu lintas laut di
sekitar Rembang. Satu hal yang menarik adalah bahwa di dalam kompleks TRPK ini
terdapat bekas bangunan kuno yang dapat dibayangkan kemegahannya pada jaman
dulu. Bangunan ini berarsitektur Eropa yang kemungkinannya dulu pernah
digunakan oleh orang-orang Belanda untuk melakukan pertemuan dan pesta (semacam
gedung societiet)
Menurut
informasi, di atap bangunan ini pernah ditemukan tulisan angka tahun pembuatan
gedung ini yaitu tahun 1811. Kalau hal ini benar, maka gedung ini kemungkinan
dibuat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal H.W.Daendels (1808-1811) yang
terkenal sebagai pemrakarsa pembangunan Jalan Post antara Anyer dan Panarukan.
Rembang merupakan salah satu kota yang dilewati Jalan Pos ini. Sejak tahun
1945, gedung ini dimanfaatkan sebagai gereja oleh Jemaat Umat Kristen
Protestan. Oleh karena jumlah anggota jemaat yang semakin berkurang maka
bangunan tua tersebut diubah fungsinya sebagai Taman Bacaan dan Perpustakaan
Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang. Setelah beberapa lama bangunan tersebut
dibeli oleh Jemaat Kristen Jawa (dengan koordinasi dengan Gereja Indonesia
Bagian Barat) sejak tahun 1996, maka kondisi bangunan semakin memburuk. Pada
akhir tahun 2001 atap bangunan tersebut roboh. Pada saat ini tinggal
tiang-tiang penyangga dan temboknya saja yang masih tersisa.
Upaya-upaya
untuk menyelamatkan gedung antik yang merupakan peninggalan sejarah tersebut
sudah sering dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang. Setelah melakukan
negoisasi yang panjang, akhirnya pengelolaan bangunan tua tersebut diserahkan
kepada pemerintah Kabupaten Rembang. Pada saat ini Pemerintah Kabupaten Rembang
sedang merencanakan untuk melakukan renovasi terhadap bangunan tersebut, untuk
selanjutnya akan digunakan sebagai gedung pertemuan dan pusat promosi dan
pengembangan wisata Kabupaten Rembang.
Secara
keseluruhan, Taman Kartini telah mengalami renovasi beberapa kali sejak tahun
1979. Pada tahun ini dibangun sarana bermain anak-anak. Selanjutnya pada tahun
1992 diadakan penataan lagi dengan menambah fasilitas seperti shelter, gardu
pandang, pembangunan talud pantai, dan sebagainya sehingga menambah daya tarik
taman rekreasi ini. Sejak saat itu nama Taman Kartini diganti dengan nama Taman
Rekreasi Pantai Kartini (TRPKartini).
Di dalam TRP
Kartini terdapat jangkar raksasa yang oleh masyarakat dikenal dengan nama
jangkar Dampo Awang. Jangkar
ini dipercaya milik pelaut Tionghoa yang bernama Sam Pho Khong. Diceritakan
bahwa pada waktu Sam Pho Khong sedang berlayar di Laut Jawa dalam rangka
ekspedisi ke selatan, kapal Sam Pho Khong diterjang gelombang besar sehingga
kapalnya rusak, rantai jangkar terlepas dan terdampar di Rembang dan layarnya
tertiup angin topan yang akhirnya jatuh di pantai Bonang sekarang ini dikenal
sebagai batu layar.
Untuk kepentingan pengmbangan
wisata di TRPKartini, pada hari kamis pon tanggal 16 Oktober 2003, jangkar dengan
panjang 2,5 m dan lebar 1,5 m ini dipindah dari tempatnya semula daratan di
tengah-tengah TRP Kartini yaitu sekitar 50 km dari garis pantai ke dalam
monumen megah yang dilengkapi dengan pelindung kaca dan lampu yang dibangun
diatas perairan tepi pantai, tepatbya 20 m dari garis pantai. Oleh masyarakat
dan Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang, jangkar Dampo Awang ini tidak hanya
dijadikan sebagai benda bersejarah, namun juga dijadikan sebagai simbol
semangat bahari kota Rembang guna mewujudkan misi “Rembang Bahari”
Mengenai hal ihwal pemindahan
jangkar Dampo Awang ini terdapat cerita-cerita yang menarik. Diceritakan bahwa
pada tahun 1950-an, jangkar ini pernah “mengamuk” ketika akan dipindah keluar
Rembang yaitu ke Semarang. Tiba-tiba muncul badai besar di Rembang selama satu
minggu lebih. Behkan benda yang semula terletak di belakang Lembaga
Pemasyarakatan ini tidak bergerak ketika diangkat oleh sekitar 100 orang.
Ketika dipindah dari belakang Lembaga Pemasyarakatan ke TRP Kartini, Jangkar
Dampo Awang diangkat oleh 150 orang. Namun demikian proses pemindahan ke lepas
pantai tanggal 16 Oktober 2003 hanya membutuhkan 16 orang meskipun membutuhkan
waktu yang lama yaitu sekitar 5 jam. Relatif mudahnya pemindahan Jangkar Dampo
Awang pada tanggal 16 Oktober 2003 ini menurut paranormal setempat disebabkan
oleh kerelaan “penunggu” jangkar yang untuk sementara mau pindah dulu dari
“rumahnya” untuk kemudian kembali lagi setelah pemindahan selesai. Para
paranormal berhasil melakukan pendekatan terhadap “penunggu” Jangkar Dampo
Awang.
Jumat, 31 Agustus 2012
OBYEK WISATA UTAMA DI REMBANG (5) MAKAM R.A. KARTINI
Setelah wafat pada tanggal 17 September 1904, jenazah R.A.Kartini
dimakamkan di pemakaman keluarga bupati Rembang R.M.A.A.Djojodiningrat. Makam
ini terletak di desa Bulu, Kecamatan Bulu (Mantingan), Kabupaten Rembang.
Pemakaman ini terletak sekitar 17,5 km dari kota Rembang ke arah kota Blora.
Luas seluruh areal pemakaman ini adalah sekitar 10 ha. Di pemakaman ini pula
dimakamkan suami R.A.Kartini R.M.A.A.Djojodiningrat dan putera beliau
satu-satunya R.M. Susalit.
OBYEK WISATA UTAMA DI REMBANG (4) MUSEUM R.A. KARTINI
R.A.Kartini
merupakan salah satu tokoh nasional kebanggaan masyarakat Rembang. Oleh karena
di kota Rembang inilah dia memanfaatkan masa-masa akhir hayatnya untuk
melanjutkan pemikiran-pemikiran segarnya mengenai kemajuan wanita Indonesia.
Oleh bengsa Indonesia, ia diakui sebagai pahlawan emansipasi wanita. Untuk
itulaj museum Kartini didirikan di Rembang, khususnya di kompleks Pendopo
Kabupaten Rembang yang menyatu dengan rumah dinas Bupati Rembang di jalan Gatot
Subroto No. 8 Rembang. Museum Kartini menempati ruangan yang dulu pernah
digunakan oleh Kartini dalam aktivitas menuliskan ide-ide dan buah pikirannya
mengenai kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya dan wanita pada khususnya.
Tempat ini sekaligus juga merupakan tempat beliau melahirkan putra satu-satunya
yaitu Raden Mas Susalit dan sebagai kamar pribadi hingga beliau wafat.
Benda-benda yang menjadi koleksi museum beraneka ragam khususnya benda-benda
yang pernah digunakan oleh R.A.Kartini semasa hidupnya.
R.A.Kartini
lahir di Mayong, Jepara pada tanggal 21 April 1879 dari pasangan suami istri
yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Ngasirah yang pada saat
itu menjabat sebagai Asisten Wedono Mayong dan tiga tahun setelah kelahiran
R.A.Kartini menjabat sebagai Bupati Jepara. Ngasirah, ibu kandung R.A.Kartini
adalah anak seorang kyai yang berasal dari Teluk Awur Jepara. Dalam usia tiga
tahun yaitu tahun 1881, R.A.Kartini diboyong ke Jepara ketika sang ayahandanya
diangkat sebagai Bupati Jepara. Ayah R.A Kartini sangat menaruh perhatian
terhadap pendidikan Kartini.Meskipun pendidikan formal bagi kaum wanita belum
merupakan sesuatu yang lazim dalam masyarakat Indonesia pada waktu itu.
Ayahanda R.A.Kartini sudah memberikan pendidikan formal. Meskipun R.A.Kartini
mempunyai hak untuk sekolah di sekolah Eropa, namun sang ayah menyekolahkan
Kartini di sekolah bersama teman-temannya. Sejak usia sekolah Kartini sudah
menunjukkan ketekunan dan bakatnya dalam membaca dan menulis. Ia membaca
buku-buku tokoh-tokoh progresif seperti Multatuli, sehingga mengetahui
seluk-beluk penindasan penjajahan Belanda. Hal ini memberikan kesadaran kepada
Kartini untuk menentang penjajahan Belanda.
Dengan
bacaan-bacaannya dan korespondensinya dengan sahabat-sahabat orang Belanda,
proses pendewasaan Kartini menjadi semakin matang, yang pada akhirnya
mengantarkan jiwa Kartini yang penuh kebebasan dalam berpikir dan demokratis
serta berorientasi maa depan dalam bertindak. Oleh karena itu dalam
surat-suratnya yang dikirimkan kepada para sahabatnya di Belanda, ia mengetik
adat istiadat yang ia pandang sebagai penghambat kemajuan wanita seperti budaya
memingit wanita. Ia menganjurkan agar wanita diberi kebebasan untuk menuntut
ilmu dan bebas belajar. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah di negeri
Belanda diurungkan dan memohon kepada Pemerintah Kolonial Belanda agar
beasiswanya diberikan kepada pemuda Indonesia yang lain. Ia lebih senang
melanjutkan sekolah guru.
Sadar bahwa
cita-cita perjuangan untuk meningkatkan derajat wanita lewat pendidikan tidak
dapat dijalankan sendiri, maka ia menerima lamaran Bupati Rembang Raden Mas
Adipati Djojodiningrat, seorang duda yang memiliki beberapa orang anak. Bupati
Rembang sangat mendukung gagasan dan aktivitas untuk memajukan pendidikan kaum
wanita dan untuk memperjuangkan kaum wanita agar sederajat dengan kaum pria.
Perkawinan Kartini berlangsung pada tanggal 8 November 1903. Empat hari setelah
perkawinan, Kartini meninggalkan Jepara pindah ke kota Rembang.
Untuk
merealisir cita-citanya, langkah awal yang diambil oleh Kartini adalah
mendirikan sekolah wanita yang ditempatkan di rumahnya yaitu didebelah timur
gapura Kabupaten Rembang (sekarang
digunakan sebagai Kantor Wakil Bupati Rembang). Sekolah yang didirikan oleh
Kartini memiliki banyak murid. Murid-murid dari kalangan keluarga yang tidak
mampu, tidak dipungut biaya. Oleh karena mengalami kemajuan pesat, sehingga
diperlukan guru bantu agar semua murid bisa ditangani dengan baik. Kartini juga
mengajukan subsidi kepada Pemerintah Kolonial Belanda untuk memajukan
sekolahnya. Semuanya dilakukan secara tulus berdasarkan jiwa sosial dan
pengabdiannya.
Dalam kehidupan
sebagai ibu rumah tangga, beliau juga merasa sangat bahagia. Telah banyak yang
dilakukan Kartini untuk kepentingan keluarga dan masyarakatnya. Namun demikian
sayang sekali, ia tidak bisa mengabdikan diri lebih lama apalagi menikmati
hasil perjuangannya. Ia wafat dalam usia yang masih sangat muda sebagai seorang
pembaharu, yaitu 25 tahun. Ia wafat tanggal 17 September 1904, empat hari
setelah melahirkan putra satu-satunya, yaitu Raden Mas Susalit. Beliau
meninggalkan semua yang dicintainya, yaitu keluarga dan bangsanya. Jenazahnya
dimakamkan di makam keluarga Rembang yaitu di desa Bulu, Kecamatan Bulu,
Kabupaten Rembang. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan wanita oleh Presiden
Soekarno. Kamar pribadi R.A.Kartini dijadikan sebagai ruang museum R.A.Kartini
dengan koleksi peninggalan beliau antara lain berupa : beberapa perabot rumah
tangga yang dulu pernah digunakan oleh Katini, bak mandi, bothekan tempat jamu,
sepasang rono, penyekat ruangan dari kayu jati berukir pemberian ayahandanya,
meja makan, meja untuk merawat bayi, lukisan karya R.A.Kartini berupa tiga ekor
angsa, naskah tulisan tangan R.A.Kartini dan lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)



