Senin, 15 Desember 2014

INGIN BERBISNIS ?

Akhir-akhir ini saya menjadi suka membaca artikel tentang entrepreneur. Sebuah artikel mempelajari cara berbisnis yang baik. Dan Alhamdulillah dampaknya sungguh baik. Saya jadi bersemangat untuk berbisnis sendiri hingga sukses. Untuk lebih jelasnya, mari kita baca artikel dari situs STUDENTPREUNEUR. 


Ingin Jadi Entrepreneur? Hindari 5 Ketakutan Berikut Ini!

 “Get things done” adalah mantra yang harus Anda praktekkan apabila ingin sukses dalam bisnis
(Lewis Howes)


Sobat Studentpreneur yang ingin menjadi entrepreneur pasti sudah sadar tentang banyaknya hal yang bisa menjadi alasan untuk tidak jadi berbisnis atau juga bisa membuat bisnis kita terhambat. Ketakutan konyol seperti tidak mempunyai gelar sarjana pada bidang tertentu, sampai tidak punya pengalaman dalam dunia bisnis menjadi alasan paling sering digunakan untuk menghambat kita. Well, Saya menemukan video menarik dari Lewis Howes yang menjelaskan tentang 5 ketakutan terbesar seorang entrepreneur pemula dan bagaimana cara mengatasinya. Bagi Sobat Studentpreneur yang kesulitan Bahasa Inggris, Saya akan membantu Anda untuk memahaminya!

Ketakutan Pertama – Kurang Percaya DiriPenyakit paling kronis dari semua pemula adalah kurang percaya diri, apalagi kalau Anda belum pernah menjalankan bisnis sebelumnya. Trik untuk mengatasi penyakit ini adalah cobalah melakukan breakdown goal Anda yang besar ke target-target yang kecil. Perlahan, wujudkan target-target kecil tersebut. Secara psikologis, kemenangan-kemenangan kecil akan membuat Anda menjadi lebih percaya diri dan berani untuk mengambil tantangan untuk menyelesaikan goal yang lebih besar lagi.

Ketakutan Kedua – Anda Berpikir Bahwa Anda Membutuhkan Sebuah Produk Sebelum Menjualnya
Banyak yang gagal berbisnis karena baru mulai menjualnya ketika produknya sudah ada. Lebih parah lagi, ternyata produk tersebut adalah produk yang tidak diinginkan oleh pasar. Cobalah membuat prototype kecil-kecilan dan pamerkan hal tersebut pada orang lain. Tanyalah pada mereka apakah mereka mau membelinya. Anda bisa tawarkan harga khusus pre-order kepada calon pelanggan yang tertarik. Apabila respon pasar positif, Anda tinggal fokus pada pengembangan produk dan menyelesaikan pesanan pre-order tersebut.

Ketakutan Ketiga – Anda Ingin Semuanya Sempurna
Banyak sekali entrepreneur pemula yang membuang waktunya untuk fokus kepada hal yang salah. Contoh, mereka menghabiskan waktu puluhan jam untuk merevisi logo perusahaan padahal produknya sendiri malah tidak diperbaiki. Ada juga yang fokus pada pengembangan produk, ingin produknya sempurna, namun malah akhirnya tidak pernah di launching karena merasa belum sempurna. “Get things done” adalah mantra yang harus Anda praktekkan apabila ingin sukses dalam bisnis. Keluarkan saja produk yang “belum sempurna” ke pasar, lihat reaksi mereka, dan perbaiki sesuai keinginan mereka. Momentum adalah segalanya dalam bisnis

Ketakutan Nomor Empat – Saya Tidak Punya Modal dan InvestorIni adalah alasan dan ketakutan yang paling sering digunakan oleh orang untuk tidak berbisnis. Saya tahu banyak sekali entrepreneur yang memulai segalanya dari modal hutang, dan bahkan hanya dari uang pinjaman keluarga. Mereka membangun bisnis dengan semangat 45, penuh keringat dan tekat. Atasi kekurangan modal dengan berusaha keras, membangun jaringan yang akan membantu bisnis Anda, dan menjadi super kreatif untuk mengalahkan pesaing yang mungkin mempunyai modal lebih besar. Cobalah berpikir di luar zona nyaman Anda!

Ketakutan Nomor Lima – Saya Tidak Punya Pengalaman dan Gelar Sarjana di Bidang Bisnis
Anda merasa harus kuliah di bidang tertentu dulu untuk mendapatkan ilmu yang diperlukan dalam bisnis? Well, tidak sepenuhnya salah. Namun, Anda juga bisa belajar secara online untuk mendapatkan pengetahuan yang diperlukan dalam bisnis. Cobalah berbagai platform luar biasa seperti Coursera untuk belajar manajemen dan operasional, atau Codecademy untuk belajar coding. Untuk mengatasi kurangnya pengalaman dalam bisnis, bagaimana Anda bisa berpengalaman kalau belum pernah berbisnis? Cobalah mencari mentor yang tepat untuk mengatasinya. Belajarlah dari keberhasilan dan kegagalan mereka!
Sobat Studentpreneur, apalagi yang Anda takutkan untuk berbisnis? Silahkan share pengalaman dan ketakutan Anda tentang bisnis dalam fitur comment di artikel ini.

Sabtu, 05 Januari 2013

OBYEK WISATA UTAMA DI LASEM (4) GALANGAN KAPAL DASUN

Sejak jaman kerajaan Majapahit Lasem telah menjadi salah satu pusat pembuatan kapal. Prestasi ini terus berlangsung pada masa kerajaan Islam Demak yang memiliki armada yang kuat. Dua kali armada Demak menyerang posisi Portugis di Malaka dengan kekuatan sekitar 100 buah kapal lebih. Meskipun mengalami kegagalan, namun serangan itu menunjukkan bahwa kerajaan Demak pernah memiliki armada laut yang cukup tangguh di Asia Tenggara. Dalam hal ini sebagian kapal-kapal itu dibuat di Lasem.
Pada masa Mataram, kapal yang dibuat di galangan ini digunakan untuk kepentingan perdagangan baik oleh pihak VOC atau para Bupati, maupun pihak swasta. Galangan kapal Rembang ini berlokasi di muara Sungai Lasem atau tepatnya di desa Dasun.
Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan tradisi pembuatan kapal di Rembang mulai berlangsung. Akan tetapi diperkirakan bahwa tradisi membuat kapal itu sudah berlangsung sebelum abad XVI. Misalnya, ketika Demak melakukan ekspedisi militer ke Malaka untuk mengusir Portugis, sebagian kapal yang dugunakan dibuat  dan dikirim dari Rembang. Tradisi kemaritiman dalam hal teknologi dan industri kapal terus mengalami perubahan. Pengaruh terbesar atas perkapalan Samudera Hindia adalah tibanya kapal-kapal Atlantik sejak akhir abad XVI. Desain tiang perlahan-lahan diubah sampai bentuk kapal tradisional yang lebih kuat dihasilkan. Di berbagai galangan pembuatan kapal Asia, kapal lokal dapat meniru model kapal Atlantik. Menurut Bernard H.M. Viekke, perkembangan kapal di Indonesia pada akhir abad XV, juga dipengaruhi oleh bentuk-bentuk kapal dari negara-negara Asia lain, seperti Pegu dan Birma. Hal ini terjadi karena adanya hubungan perdagangan laut antara negara-negara di Asia yang sudah berlangsung lama.
Pada masa Mataram Kartasura, VOC berhasil mendirikan kantor di Demak dan Rembang yang dianggap mutlak perlu karena kaya akan kayu, sehingga di kedua tempat itu didirikan sebuah galangan kapal. Sejak kapan pendirian galangan kapal oleh VOC di Rembang juga tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi diperkirakan antara tahun 1651 sampai 1677. Tahun 1651 merupakan tahun diadakannya perdamaian antara VOC dengan Amangkurat I, sehingga VOC diberi ijin untuk membuka kantor di Jepara, dan tidak menutup kemungkinan VOC telah merintis dan membuka kantor di Rembang. Salah satu alasan utama bagi Kompeni untuk membuka loji di Jepara adalah adanya kesempatan baik untuk membuat kapal-kapal kici (jacht) yang sangat diperlukan. Oleh karena itu instruksi Residen pertama Dick Schouten melihat kesempatan yang baik dan harganya pun murah, sehingga dipesan sedikitnya tiga kapal kici berukuran 70 sampai 60 last, dan kapal-kapal itu selesai dibuat pada bulan November 1651.
Sementara pada tahun 1677, diceritakan tentang kejadian orang-orang Makasar yang sampai di kota Rembang yang dapat menghancurkan kota Rembang serta perahu-perahu baru Kompeni di galangan kapal milik Daniel Dupree dalam pemberontakan Trunojoyo.. Pada masa itu, galangan kapal Rembang menjadi produsen kapal untuk memenuhi kebutuhan kapal baik bagi Mataram maupun VOC. Pada tahun 1657, Amangkurat I memerintahkan Tumenggung Pati untuk membuat sebuah kapal untuk Mataram dan sebuah kapal lagi dipesan oleh Duta Makasar.
Tentang siapa pengelola dan pemilik galangan kapal Rembang itu, pertama-tama bisa disebut nama Daniel Dupree seorang pengusaha kayu swasta sebgaimana banyak disebut oleh H.J. de Graff. Akan tetapi tidak diperoleh data yang menjelaskan kapan Daniel Dupree ini mulai memimpin galangan kapal tersebut. Ketika galangan kapal miliknya dapat dihancurkan oleh para pemberontak dari Makasar yang mendukung Trunojoyo, glangan ini sempat dibubarkan pada tahun 1677, tetapi dibangun lagi oleh VOC pada tahun 1679 setelah pemberontakan berhasil dipadamkan. Tidak diketahui, apakah setelah galangan itu dibangun kembali dia masih dengan para penggantinya, tidak diketahui sejak kapan mereka mulai dan berakhir memiliki galangan tersebut. Pada tahun 1832 diketahui, Tuan Horning menjadi pemilik galangan dan Tuan Browne menjadi pemborong. Kemudian pada tahun 1836, galangan itu dimiliki oleh Tuan Perry sedangkan Browne dan Horning menjadi pemborong. Pada tahun 1849 diketahui sebagai pemilik galangan yaitu Browne en Co, sebagai perusahaan patungan. Selanjutnya pada tahun 1878 diketahui bahwa pemilik galangan itu adalah sebuah firma, yang bernama Firma Nering Bogel en Dunlop.
Galangan kapal di Rembang ini telah memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan perkapalan dan pelayaran baik yang berlangsung di wilayah Rembang maupun wilayah lain yang menggunakan jasa pembuatan kapal di Rembang. Pelabuhan Rembang menjadi ramai antara lain juga disebabkan oleh galangan kapal ini. Banyak kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Rembang di samping untuk berdagang juga melakukan perbaikan terhadap kapal-kapal mereka di geladak kapal Rembang. Dengan demikian galangan kapal di Rembang menjadi tempat pembuatan maupun perbaikan kapal.
Pada tanggal 3 Juli 1813, galangan kapal Rembang telah berhasil diperbaiki 20 perahu dan 14 kapal meriam yang telah dikirim kembali ke Batavia dalam kondisi yang baik. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1813 telah berhasil pula diperbaiki 30 kapal yang digunakan untuk mengangkut garam dan beras dari satu daerah ke daerah lain. Pada bulan Oktober juga telah dikirim sebuah kapal meriam oleh Residen Jepara ke galangan kapal Rembang untuk diperbaiki. Kapal tersebut setelah selesai dibawa ke Banjarmasin oleh Residen Jepara untuk menumpas pemberontak. Memang galangan kapal Rembang menjadi pusat bengkel kapal di Jawa karena pada saat itu, galangan ini merupakan galangan yang cukup besar di Hindia Belanda. Namin demikian bagi kapal-kapal yang rusak berat, misal lantai kapal jebol sehingga air laut masuk, tidak bisa diperbaiki di Rembang, kecuali diperbaiki untuk sementara saja. Perbaikan kapal yang rusak berat menelan biaya sampai 3.000 gulden, sedangkan bagi kapal yang rusak ringan bisa mencapai 500 gulden. Kapal-kapal pemerintah yang diperbaiki di galangan kapal Rembang ini semuanya menjadi tanggungan EIC. Pada tahun 1813, pemerintah memberikan anggaran rutin untuk biaya pengelolaan galangan kapal Rembang ini sebesar 2.000 gulden per tahun.
Pembuatan kapal di galangan kapal Rembang memang mengalami kemajuan baik dalam jumlah kapal yang dibuat maupun teknik pembuatan yang semakin baik. Sebenarnya tentang teknik, dan jaminan keamanan bagi kapal yang akan dibuat menempuh pada jarak pelayaran tertentu memang berbeda-beda. Akan tetapi sarana dasar bagi kapal kayu yang didorong oleh angin, memiliki batasan teknik yang sama. Kapal ini tidak melebihi ukuran tertentu, jumlah kondisi, permukaan layar, dan kecepatan. Pada tahun 1813 di galangan ini telah mampu dibuat kapal layar cepat dan kapal meriam, di samping memproduksi kapal-kapal kecil. Meskipun demikian cepat tidaknya pembuatan kapal sangat bergantung pada jumlah para pekerja yang melakukan pekerjaan itu. Pada bulan September tahun 1813, dilaporkan bahwa di galangan ini telah dilakukan pekerjaan pembuatan yang terdiri dari enam buah kapal meriam berkapasitas 30 orang yang dibuat dengan cara: dasar didempul, lapisan kayu lengkap menutup papan kabin, tiang dan geladak; sebuah kapal layar berkapasitas 20 orang; delapan kapal meriam tiang rendah lengkap dan siap dikemudikan dengan kekecualian belum dilapisi tembaga; 10 perahu berkapasitas 10 orang dengan papan pada bagian dalam, serta sebuah perahu dengan geladak dari papan pada bagian dalam.
Pembuatan kapal di Rembang baik yang dilakukan oleh perusahaan swasta maupun oleh penduduk pribumi di distrik pantai dapat berlangsung karena didukung oleh keberadaan hutan jati di wilayah pedalaman Rembang. Dengan demikian maju mundurnya pembuatan kapal di Rembang sangat bergantung pada eksploitasi hutan jati dan segala aspek yang mempengaruhinya. Ketika pada tahun 1820 terjadi pengurangan terhadap ganti rugi pemotongan kayu jati, maka sebagai akibatnya adalah pembuatan kapal segera mengalami kemerosotan, meskipun pembuatan kapal oleh penduduk pribumi di distrik pantai masih bisa bertahan.
Sering terjadi pula, ketika pembuatan kapal swasta sedang meningkat tajam, tetapi kondisi sulit juga muncul menyertainya. Hal ini disebabkan karena hutan jati yang kayu-kayunya dicadangkan oleh pemerintah untuk menjadi bahan baku pembuatan kapal, sering harus dikalahkan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kayu jati bagi pembangunan sarana dan prasarana sosial dan pemerintahan. Sementara itu, pemerintah itu sendiri tidak mendapatkan kayu jati karesidenan lain sebab hutan di tempat lain tidak mampu menunjang kegiatan ini. Dengan demikian penduduk sering mengalami kekurangan kayu, karena di samping tidak mau menggunakan kayu lain karena kekuatan yang kurang baik, juga karena penduduk tidak terbiasa menggunakan kayu yang melengkung yang bisa dihasilkan hutan untuk pembuatan kapal.
Di samping itu, residen juga memperhatikan eksploitasi hutan jati yang cukup tinggi. Untuk itu dibuat aturan, bahwa sebagian besar penduduk kini terlibat dalam aktivitas kehutanan dan pekerjaan yang amat berat pada saat itu karena penduduk diminta oleh pemerintah untuk bekerja dan menyerahkan hewan pemeliharaannya untuk menarik kayu-kayu itu dari hutan ke tempat penimbunan atau sungai-sungai untuk dialirkan ke muara.
Pembuatan kapal sampai tahun 1832, tetap menjadi cabang industri yang paling utama di Rembang, terutama telah memberikan kesempatan kepada pemerintah di Rembang selama empat tahun belakangan ini untuk segera membuat sejumlah besar kapal dan perahu tanpa banyak menemui kesulitan dalam bidang biaya. Namun demikian beberapa tahun menjelang tahun 1836 terjadi penurunan produksi kapal. Hal ini disebabkan karena penebangan hutan yang kayunya digunakan untuk membuat kapal harus diserahkan kepada pemerintah, sedang kapal yang telah dibuat tidak diberi harga yang cukup tinggi. Sementara itu para pemborong Browne dan Horning masih memiliki persediaan kayu dari tahun sebelumnya, sehingga bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhannya. Pada tahun 1849 dilaporkan bahwa galangan kapal milik Browne berkembang dengan pesat. Pada bulan Juli 1854, Firma Browne & Co di Dasun telah mengadakan kontrak dengan Pangkalan militer Ourust yang berisi pemesanan sebuah geladak dorong untuk kepentingan militer di Ourust. Geladak dorong ini harus sudah selesai dikerjakan oleh galangan kapal Browne & Co pada akhir bulan Mei 1856.
Namun demikian kesulitan untuk mendapatkan kayu kembali menjadi penghambat kemajuan galangan ini pada tahun 1864. Bahkan ketika Firma Nering, Bogel dan Dunlop dapat tetap membangun geladak kapal dan kapal-kapal lain karena dapat mendatangkan kayu-kayu dari lain tempat meskipun dengan harga yang sangat mahal. Rupanya Pemerintah Pusat tetap beranggapan bahwa pembangunan geladak dorong bagi pangkalan di Ourust sangat penting dan perlu disukseskan. Untuk itu Direktur Perkebunan di Batavia akhirnya dapat menyetujui permohonan perusahaan Firma Nering, Bogel, en Dunlop untuk melakukan penebangan kayu jati, tetapi hanya diijinkan menebang sebanyak 400 balok kayu jati di hutan pemerintah di distrik Sedan dan Pamotan.
Dengan terbatasnya kayu jati ini telah menyebabkan galangan kapal di Dasub tidak membuath kapal untuk kepentingan swasta pada tahun 1858, kecuali untuk kepentingan pemerintah dan mengadakan perbaikan atau pembaharuan kapal untuk kepentingan militer laut. Meskipun produksi kapal mengalami penurunan, tetapi di galangan ini telah mencapai suatu kemajuan dalam teknik pembuatan kapal. Sebagai bukti kemajuan ini bisa ditunjukkan pada tahun 1854 telah berhasil dibuat beberapa kapal uap bersilinder dengan kekuatan sebesar 30 tenaga kuda. Bahkan proyek ini telah menghasilkan kapal tempur yang ditujukan untuk kepentingan daerah Banjarmasin yang menurut catatan Insinyur Kepala pada proyek pembuatan kapal itu, dibuat selama 8 bulan di galangan kapal Browne en Co di Dasun, dimatangkan lagi selama lima bulan di Surabaya. Beberapa bukti pelayaran menurut laporan ini, semua sesuai dengan harapan.
Di samping masalah kesulitan mendapatkan kayu jati, bertambahnya kapal uap di Hindia Belanda juga berpengaruh terhadap perkembangan galangan kapal di Rembang ini. Pada tahun 1880 kemerosotan ini sangat dirasakan. Akibat situasi ini galangan kapal Rembang pada tahun 1883 hanya memberikan sedikit kemajuan sehingga suatu tinjauan tentang aktivitasnya tidak banyak diberikan. Pada tahun 1885 galangan ini tidak banyak mengalami perkembangan, dan pada tahun 1889 pembuatan kapal besar tidak ditekuni lagi karena kekurangan modal kerja dan pekerjaan.
Selanjutnya, tentang perkembangan produksi serta perbaikan kapal di galangan kapal desa Dasun ini dari tahun ke tahun cukup bervariasi. Pada tahun 1832 galangan kapal ini membuat semua jenis perahu untuk pesanan orang-orang Eropa dan perahu angkut barang. Pada tahun itu dilaporkan telah dibuat empat buah kapal. Empat buah kapal pemerintah telah diselesaikan lagi pada tahun 1834 sementara pembuatan kapal bagi kepentingan swasta, meskipun terus berjalan tetapi semakin sulit karena mahalnya harga kayu jati yang terjadi pada tahun 1829. Akan tetapi para pemborong masih banyak memiliki persediaan yang cukup besar dari kayu sebelumnya, sehingga mereka masih bisa membuat perahu. Beberapa perahu dan kapal “Maria Freberica” dibuat. Di samping itu, empat kapal sipil pemerintah telah dibuat dan diselesaikan pada bulan November 1835. Kapal tersebut kemudian dikirim ke Surabaya. Kemudian pada tahun 1936 diselesaikan tujuh perahu yang terdiri dari lima buah kapal layar, sebuah kapal cepat, dan satu “kotler”. Selanjutnya pada tahun 1839 berhasil diselesaikan dua buah kapal layar “tiang dua” dan sebuah kapal layar cepat. Sementara pada tahun 1840, telah dibuat satu kapal uap, tiga kapal layar “tiang tiga”, tiga kapal layar cepat, tiga perahu angkut, satu perahu pancalang. Pada tahun 1852 telah diselesaikan enam kapal pesanan pemerintah yang difungsikan sebagai kapal pengawas. Empat tahun setelah itu, telah dihasilkan delapan kapal pengawas, dua kapal “sloep”, dua kapal angkut, dua “loods boot”. Pada tahun 1857 telah diselesaikan pembuatan dua kapal tempur yang dilapisi dengan tembaga dan sebuah kapal layar cepat atas biaya swasta. Kecuali itu berbagai perahu mengalami banyak perbaikan di galangan Dasun ini. Kemudian pada tahun 1858, di samping mengadakan perbaikan dan pembaharuan geladak dorong untuk pangkalan militer di Ourust, telah diselesaikan pula tiga kapal pengawas, tujuh kapal dayung, lima kapal angkut, sebuah kapal cepat dan dua perahu mayang. Selanjutnya pada tahun 1865 telah dihasilkan enam buah kapal cepat. Kemerosotan terjadi sejak tahun 1870, karena terjadinya penutupan hutan jati di beberapa distrik, sehingga harga kayu jati mengalami peningkatan tajam. Pada tahun 1880 diperoleh informasi bahwa galangan kapal Dasun hanya memproduksi sabuah perahu dan dua kapal sungai, suatu produk yang tidak berarti bagi pabrik kapal yang relatif besar dan tersohor itu. Tampaknya pada tahun 1886 galangan kapal ini tidak memperoleh pekerjaan pembuatan kapal baik dari pemerintah maupun swasta, sehingga hanya membuat dan memperbaiki perahu-perahu kecil saja. Untuk lebih jelasnya, produksi kapal dari galangan kapal di Dasun ini dapat dilihat pada tanel berikut:
Perkembangan Produksi kapal dan Galangan Kapal di Dasun Rembang pada tahun 1832 – 1880
Tahun     Jumlah Kapal       
1832               4                
1834               4                
1835               5                
1836               7                
1839               4                
1840              11                
1852               6                
1856              14                
1857               3                
1858              18                
1865               6                
1880               3                

Sumber : Diolah dari AVRR  dan K.V. dari berbagai tahun.



Rabu, 31 Oktober 2012

Sekolah Terbesar di Dunia Berikan Siswa India Pelajaran Hidup

Hari pertama di kelas untuk setiap murid baru bisa menjadi pengalaman yang luar biasa. Coba bayangkan rasanya belajar sebagai salah satu dari 40.000 murid yang masuk di sekolah terbesar di dunia.


Penghargaan Guinness World Records terbaru dianugerahkan kepada City Montessori School di kota Lucknow, India dengan 39.437 siswa yang terdaftar pada tahun akademik 2010-2011.

Pihak sekolah mengatakan, jumlah pendaftaran telah meningkat di atas 45.000. Sekolah itu memiliki 2.500 guru, 3.700 komputer, 1.000 ruang kelas dan salah satu dari sebelas tim kriket yang paling tangguh.

City Montessori School dibuka oleh Jagdish Gandhi dan istrinya Bharti pada 1959 dengan pinjaman 300 rupee (setara Rp58.000 pada saat ini) dan hanya memiliki lima orang siswa.

Kini sekolah tersebut telah berkembang hingga lebih dari 20 lokasi di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, dan terkenal dengan hasil ujian dan program pertukaran internasional.

"Pertumbuhan fenomenal sekolah kami adalah refleksi dari upaya kami untuk menyenangkan orangtua melalui layanan terhadap anak-anak mereka," kata Gandhi, 75 tahun, yang masih menjabat dalam manajemen sekolah.

"Siswa kami memiliki hasil akademis yang luar biasa setiap tahun dan mendapatkan perhatian global yang luar biasa. Mendapatkan rekor Guinness sangat membesarkan hati kami, tapi ini bukan segalanya," katanya kepada AFP.

Para murid, yang berusia antara 3-17 tahun, semuanya berseragam dan masing-masing kelas menampung sekitar 45 murid, namun seluruh siswa di sekolah tidak pernah dikumpulkan secara bersama karena tidak ada tempat yang cukup besar untuk menampung mereka.

CMS, yang tidak menerima dana dari pemerintah, membebani  biaya 1.000 rupee (sekitar Rp180 ribu) per bulan untuk biaya murid yang lebih muda,  dan 2.500 rupee (sekitar Rp450 ribu) per bulan untuk senior.

"Dalam sekolah yang besar seperti itu, ada banyak keuntungan, salah satunya adalah Anda bisa berkenalan dengan banyak teman di seluruh lokasi sekolah yang kami miliki," kata Ritika Ghosh (14), yang telah bersekolah di CMS selama dua tahun kepada AFP.

"Tapi karena sekolah begitu besar, maka dibutuhkan banyak upaya untuk bisa mendapatkan perhatian. Jadi Anda hanya merupakan salah satu dari ribuan siswa yang belajar.

"Pasti Ada lebih banyak tantangan dan kompetisi, yang pada akhirnya mempersiapkan kita untuk kehidupan nyata."

Seorang siswa bernama Tanmay Tiwari (16) mengatakan bahwa ukuran sekolahnya yang besar membuatnya lebih  percaya diri.

"Aku dulu sangat pemalu tapi sekolah telah memberi saya kepercayaan diri," katanya kepada AFP. "Sekarang saya masuk dalam tim perguruan tinggi dan ikut berdebat dalam kompetisi nasional."

Ukuran sekolah dibandingkan hanya dengan ambisi idealisnya, para siswa diajarkan tentang filosofi perdamaian universal dan globalisme di bawah moto "Jai Jagat" (Kemenangan untuk Dunia).

Dengan para siswa yang berada di bawah tekanan sengit untuk mendapatkan hasil ujian yang baik, olahraga tidak selalu menjadi prioritas utama, namun pelatih kriket Raju Singh Chauhan mengatakan bahwa ia menganggap pemilihan tim masih rumit.

"Untuk mendapatkan murid berbakat olahraga di antara 45.000 lebih siswa akan menjadi masalah besar," katanya.

"Untuk alasan ini kami mengadakan kompetisi antarcabang untuk menggali bakat anak-anak yang terbaik dan akhirnya kami mendapatkan gambaran yang lebih besar dan sebelas orang dari kami yang terbaik untuk masuk dalam tim."

CMS pertama kali memegang gelar sebagai sekolah terbesar di dunia pada 2005, ketika memiliki 29.212 siswa, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Rizal High School di Manila, Filipina, yang memiliki 19.738 siswa.

Para alumni sekolah tersebut meliputi Ushhan Gundevia, seorang bankir eksekutif di Goldman Sachs, dan Prakash Gupta, seorang diplomat senior PBB di New York, serta sarjana Harvard dan beberapa ahli bedah terkemuka serta ilmuwan.

"Sekolah merupakan inspirasi tidak hanya bagi siswa, tetapi juga untuk siapa saja, di mana saja yang ingin membuat perbedaan positif," kata Craig Glenday, editor Guinness World Records, kepada AFP dari London.

"Sekolah mengerti betul bahwa mengajar adalah profesi yang paling suci, dan dari asal-usul sederhana tersebut hingga menjadi yang terbesar, serta  salah satu lembaga pendidikan yang paling dihormati di dunia, itu adalah cerita yang benar-benar menginspirasi dan menakjubkan."

(Sumber: Oleh Yahoo! News | AFP , Sagarika Dubey | AFP)

568 Orang Meninggal Akibat HIV/AIDS di Jateng

Jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang meninggal di Jawa Tengah sudah mencapai 568 orang atau 10,91 persen dari data penderita 5.206 orang. Jumlah itu menempatkan provinsi ini di urutan ke enam terbanyak di Indonesia.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Magelang, Drs H Asfuri Muhsis MSi, menyebutkan, yang terinfeksi HIV (Human immunodeficiency virus) 2.646 orang. “Yang menderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) 1.992 orang,” katanya, Senin (18/6), dalam sosialisasi warga peduli AIDS (WPA).
Menurut dia, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Magelang, sampai April 2012, terdapat 24 kasus. Rinciannya, 15 positif terinfeksi HIV, Sembilan kasus AIDS dan meninggal sembilan orang (37,5 persen). Menurut dia, dari berbagai peristiwa  penularan HIV/AIDS berkaitan dengan perilaku yang menyimpang.
Karena itu program kegiatan KPA Kabupaten Magelang lebih diarahkan pada upaya pencegahannya. (Tuhu Prihantoro / CN26 / JBSM)
(Sumber: suaramerdeka.com, 18 Juni 2012)