Akhir-akhir ini saya menjadi suka membaca artikel tentang entrepreneur. Sebuah artikel mempelajari cara berbisnis yang baik. Dan Alhamdulillah dampaknya sungguh baik. Saya jadi bersemangat untuk berbisnis sendiri hingga sukses. Untuk lebih jelasnya, mari kita baca artikel dari situs STUDENTPREUNEUR.
Ingin Jadi Entrepreneur? Hindari 5 Ketakutan Berikut Ini!
“Get things done” adalah mantra yang harus Anda praktekkan apabila ingin sukses dalam bisnis
(Lewis Howes)
Sobat Studentpreneur yang ingin menjadi entrepreneur pasti sudah sadar tentang banyaknya hal yang bisa menjadi alasan untuk tidak jadi berbisnis atau juga bisa membuat bisnis kita terhambat. Ketakutan konyol seperti tidak mempunyai gelar sarjana pada bidang tertentu, sampai tidak punya pengalaman dalam dunia bisnis menjadi alasan paling sering digunakan untuk menghambat kita. Well, Saya menemukan video menarik dari Lewis Howes yang menjelaskan tentang 5 ketakutan terbesar seorang entrepreneur pemula dan bagaimana cara mengatasinya. Bagi Sobat Studentpreneur yang kesulitan Bahasa Inggris, Saya akan membantu Anda untuk memahaminya!
Ketakutan Pertama – Kurang Percaya DiriPenyakit paling kronis dari semua pemula adalah kurang percaya diri, apalagi kalau Anda belum pernah menjalankan bisnis sebelumnya. Trik untuk mengatasi penyakit ini adalah cobalah melakukan breakdown goal Anda yang besar ke target-target yang kecil. Perlahan, wujudkan target-target kecil tersebut. Secara psikologis, kemenangan-kemenangan kecil akan membuat Anda menjadi lebih percaya diri dan berani untuk mengambil tantangan untuk menyelesaikan goal yang lebih besar lagi.
Ketakutan Kedua – Anda Berpikir Bahwa Anda Membutuhkan Sebuah Produk Sebelum Menjualnya
Banyak yang gagal berbisnis karena baru mulai menjualnya ketika produknya sudah ada. Lebih parah lagi, ternyata produk tersebut adalah produk yang tidak diinginkan oleh pasar. Cobalah membuat prototype kecil-kecilan dan pamerkan hal tersebut pada orang lain. Tanyalah pada mereka apakah mereka mau membelinya. Anda bisa tawarkan harga khusus pre-order kepada calon pelanggan yang tertarik. Apabila respon pasar positif, Anda tinggal fokus pada pengembangan produk dan menyelesaikan pesanan pre-order tersebut.
Ketakutan Ketiga – Anda Ingin Semuanya Sempurna
Banyak sekali entrepreneur pemula yang membuang waktunya untuk fokus kepada hal yang salah. Contoh, mereka menghabiskan waktu puluhan jam untuk merevisi logo perusahaan padahal produknya sendiri malah tidak diperbaiki. Ada juga yang fokus pada pengembangan produk, ingin produknya sempurna, namun malah akhirnya tidak pernah di launching karena merasa belum sempurna. “Get things done” adalah mantra yang harus Anda praktekkan apabila ingin sukses dalam bisnis. Keluarkan saja produk yang “belum sempurna” ke pasar, lihat reaksi mereka, dan perbaiki sesuai keinginan mereka. Momentum adalah segalanya dalam bisnis
Ketakutan Nomor Empat – Saya Tidak Punya Modal dan InvestorIni adalah alasan dan ketakutan yang paling sering digunakan oleh orang untuk tidak berbisnis. Saya tahu banyak sekali entrepreneur yang memulai segalanya dari modal hutang, dan bahkan hanya dari uang pinjaman keluarga. Mereka membangun bisnis dengan semangat 45, penuh keringat dan tekat. Atasi kekurangan modal dengan berusaha keras, membangun jaringan yang akan membantu bisnis Anda, dan menjadi super kreatif untuk mengalahkan pesaing yang mungkin mempunyai modal lebih besar. Cobalah berpikir di luar zona nyaman Anda!
Ketakutan Nomor Lima – Saya Tidak Punya Pengalaman dan Gelar Sarjana di Bidang Bisnis
Anda merasa harus kuliah di bidang tertentu dulu untuk mendapatkan ilmu yang diperlukan dalam bisnis? Well, tidak sepenuhnya salah. Namun, Anda juga bisa belajar secara online untuk mendapatkan pengetahuan yang diperlukan dalam bisnis. Cobalah berbagai platform luar biasa seperti Coursera untuk belajar manajemen dan operasional, atau Codecademy untuk belajar coding. Untuk mengatasi kurangnya pengalaman dalam bisnis, bagaimana Anda bisa berpengalaman kalau belum pernah berbisnis? Cobalah mencari mentor yang tepat untuk mengatasinya. Belajarlah dari keberhasilan dan kegagalan mereka!
Sobat Studentpreneur, apalagi yang Anda takutkan untuk berbisnis? Silahkan share pengalaman dan ketakutan Anda tentang bisnis dalam fitur comment di artikel ini.
Senin, 15 Desember 2014
Sabtu, 05 Januari 2013
OBYEK WISATA UTAMA DI LASEM (4) GALANGAN KAPAL DASUN
Sejak
jaman kerajaan Majapahit Lasem telah menjadi salah satu pusat pembuatan kapal.
Prestasi ini terus berlangsung pada masa kerajaan Islam Demak yang memiliki
armada yang kuat. Dua kali armada Demak menyerang posisi Portugis di Malaka
dengan kekuatan sekitar 100 buah kapal lebih. Meskipun mengalami kegagalan,
namun serangan itu menunjukkan bahwa kerajaan Demak pernah memiliki armada laut
yang cukup tangguh di Asia Tenggara. Dalam hal ini sebagian kapal-kapal itu
dibuat di Lasem.
Tentang siapa pengelola dan pemilik
galangan kapal Rembang itu, pertama-tama bisa disebut nama Daniel Dupree
seorang pengusaha kayu swasta sebgaimana banyak disebut oleh H.J. de Graff.
Akan tetapi tidak diperoleh data yang menjelaskan kapan Daniel Dupree ini mulai
memimpin galangan kapal tersebut. Ketika galangan kapal miliknya dapat
dihancurkan oleh para pemberontak dari Makasar yang mendukung Trunojoyo,
glangan ini sempat dibubarkan pada tahun 1677, tetapi dibangun lagi oleh VOC
pada tahun 1679 setelah pemberontakan berhasil dipadamkan. Tidak diketahui,
apakah setelah galangan itu dibangun kembali dia masih dengan para
penggantinya, tidak diketahui sejak kapan mereka mulai dan berakhir memiliki
galangan tersebut. Pada tahun 1832 diketahui, Tuan Horning menjadi pemilik
galangan dan Tuan Browne menjadi pemborong. Kemudian pada tahun 1836, galangan
itu dimiliki oleh Tuan Perry sedangkan Browne dan Horning menjadi pemborong. Pada
tahun 1849 diketahui sebagai pemilik galangan yaitu Browne en Co, sebagai
perusahaan patungan. Selanjutnya pada tahun 1878 diketahui bahwa pemilik
galangan itu adalah sebuah firma, yang bernama Firma Nering Bogel en Dunlop.
Pembuatan
kapal di galangan kapal Rembang memang mengalami kemajuan baik dalam jumlah
kapal yang dibuat maupun teknik pembuatan yang semakin baik. Sebenarnya tentang
teknik, dan jaminan keamanan bagi kapal yang akan dibuat menempuh pada jarak
pelayaran tertentu memang berbeda-beda. Akan tetapi sarana dasar bagi kapal
kayu yang didorong oleh angin, memiliki batasan teknik yang sama. Kapal ini
tidak melebihi ukuran tertentu, jumlah kondisi, permukaan layar, dan kecepatan.
Pada tahun 1813 di galangan ini telah mampu dibuat kapal layar cepat dan kapal
meriam, di samping memproduksi kapal-kapal kecil. Meskipun demikian cepat
tidaknya pembuatan kapal sangat bergantung pada jumlah para pekerja yang
melakukan pekerjaan itu. Pada bulan September tahun 1813, dilaporkan bahwa di
galangan ini telah dilakukan pekerjaan pembuatan yang terdiri dari enam buah
kapal meriam berkapasitas 30 orang yang dibuat dengan cara: dasar didempul,
lapisan kayu lengkap menutup papan kabin, tiang dan geladak; sebuah kapal layar
berkapasitas 20 orang; delapan kapal meriam tiang rendah lengkap dan siap
dikemudikan dengan kekecualian belum dilapisi tembaga; 10 perahu berkapasitas
10 orang dengan papan pada bagian dalam, serta sebuah perahu dengan geladak
dari papan pada bagian dalam.
Pada
masa Mataram, kapal yang dibuat di galangan ini digunakan untuk kepentingan
perdagangan baik oleh pihak VOC atau para Bupati, maupun pihak swasta. Galangan
kapal Rembang ini berlokasi di muara Sungai Lasem atau tepatnya di desa Dasun.
Tidak
diketahui dengan pasti sejak kapan tradisi pembuatan kapal di Rembang mulai
berlangsung. Akan tetapi diperkirakan bahwa tradisi membuat kapal itu sudah
berlangsung sebelum abad XVI. Misalnya, ketika Demak melakukan ekspedisi
militer ke Malaka untuk mengusir Portugis, sebagian kapal yang dugunakan
dibuat dan dikirim dari Rembang. Tradisi
kemaritiman dalam hal teknologi dan industri kapal terus mengalami perubahan.
Pengaruh terbesar atas perkapalan Samudera Hindia adalah tibanya kapal-kapal Atlantik
sejak akhir abad XVI. Desain
tiang perlahan-lahan diubah sampai bentuk kapal tradisional yang lebih kuat
dihasilkan. Di berbagai galangan pembuatan kapal Asia, kapal lokal dapat meniru
model kapal Atlantik. Menurut Bernard H.M. Viekke, perkembangan kapal di
Indonesia pada akhir abad XV, juga dipengaruhi oleh bentuk-bentuk kapal dari
negara-negara Asia lain, seperti Pegu dan Birma. Hal ini terjadi karena adanya
hubungan perdagangan laut antara negara-negara di Asia yang sudah berlangsung
lama.
Pada masa Mataram Kartasura, VOC
berhasil mendirikan kantor di Demak dan Rembang yang dianggap mutlak perlu
karena kaya akan kayu, sehingga di kedua tempat itu didirikan sebuah galangan
kapal. Sejak kapan pendirian galangan kapal oleh VOC di Rembang juga tidak diketahui
dengan pasti. Akan tetapi diperkirakan antara tahun 1651 sampai 1677. Tahun
1651 merupakan tahun diadakannya perdamaian antara VOC dengan Amangkurat I,
sehingga VOC diberi ijin untuk membuka kantor di Jepara, dan tidak menutup
kemungkinan VOC telah merintis dan membuka kantor di Rembang. Salah satu alasan
utama bagi Kompeni untuk membuka loji di Jepara adalah adanya kesempatan baik
untuk membuat kapal-kapal kici (jacht) yang sangat diperlukan. Oleh karena itu
instruksi Residen pertama Dick Schouten melihat kesempatan yang baik dan
harganya pun murah, sehingga dipesan sedikitnya tiga kapal kici berukuran 70
sampai 60 last, dan kapal-kapal itu selesai dibuat pada bulan November 1651.
Sementara pada tahun 1677,
diceritakan tentang kejadian orang-orang Makasar yang sampai di kota Rembang
yang dapat menghancurkan kota Rembang serta perahu-perahu baru Kompeni di
galangan kapal milik Daniel Dupree dalam pemberontakan Trunojoyo.. Pada masa
itu, galangan kapal Rembang menjadi produsen kapal untuk memenuhi kebutuhan
kapal baik bagi Mataram maupun VOC. Pada tahun 1657, Amangkurat I memerintahkan
Tumenggung Pati untuk membuat sebuah kapal untuk Mataram dan sebuah kapal lagi
dipesan oleh Duta Makasar.
Tentang siapa pengelola dan pemilik
galangan kapal Rembang itu, pertama-tama bisa disebut nama Daniel Dupree
seorang pengusaha kayu swasta sebgaimana banyak disebut oleh H.J. de Graff.
Akan tetapi tidak diperoleh data yang menjelaskan kapan Daniel Dupree ini mulai
memimpin galangan kapal tersebut. Ketika galangan kapal miliknya dapat
dihancurkan oleh para pemberontak dari Makasar yang mendukung Trunojoyo,
glangan ini sempat dibubarkan pada tahun 1677, tetapi dibangun lagi oleh VOC
pada tahun 1679 setelah pemberontakan berhasil dipadamkan. Tidak diketahui,
apakah setelah galangan itu dibangun kembali dia masih dengan para
penggantinya, tidak diketahui sejak kapan mereka mulai dan berakhir memiliki
galangan tersebut. Pada tahun 1832 diketahui, Tuan Horning menjadi pemilik
galangan dan Tuan Browne menjadi pemborong. Kemudian pada tahun 1836, galangan
itu dimiliki oleh Tuan Perry sedangkan Browne dan Horning menjadi pemborong. Pada
tahun 1849 diketahui sebagai pemilik galangan yaitu Browne en Co, sebagai
perusahaan patungan. Selanjutnya pada tahun 1878 diketahui bahwa pemilik
galangan itu adalah sebuah firma, yang bernama Firma Nering Bogel en Dunlop.
Galangan
kapal di Rembang ini telah memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan
perkapalan dan pelayaran baik yang berlangsung di wilayah Rembang maupun
wilayah lain yang menggunakan jasa pembuatan kapal di Rembang. Pelabuhan
Rembang menjadi ramai antara lain juga disebabkan oleh galangan kapal ini.
Banyak kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Rembang di samping untuk
berdagang juga melakukan perbaikan terhadap kapal-kapal mereka di geladak kapal
Rembang. Dengan demikian galangan kapal di Rembang menjadi tempat pembuatan
maupun perbaikan kapal.
Pada
tanggal 3 Juli 1813, galangan kapal Rembang telah berhasil diperbaiki 20 perahu
dan 14 kapal meriam yang telah dikirim kembali ke Batavia dalam kondisi yang
baik. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1813 telah berhasil pula diperbaiki 30
kapal yang digunakan untuk mengangkut garam dan beras dari satu daerah ke
daerah lain. Pada bulan Oktober juga telah dikirim sebuah kapal meriam oleh
Residen Jepara ke galangan kapal Rembang untuk diperbaiki. Kapal tersebut
setelah selesai dibawa ke Banjarmasin oleh Residen Jepara untuk menumpas
pemberontak. Memang galangan kapal Rembang menjadi pusat bengkel kapal di Jawa
karena pada saat itu, galangan ini merupakan galangan yang cukup besar di
Hindia Belanda. Namin demikian bagi kapal-kapal yang rusak berat, misal lantai
kapal jebol sehingga air laut masuk, tidak bisa diperbaiki di Rembang, kecuali
diperbaiki untuk sementara saja. Perbaikan kapal yang rusak berat menelan biaya
sampai 3.000 gulden, sedangkan bagi kapal yang rusak ringan bisa mencapai 500
gulden. Kapal-kapal pemerintah yang diperbaiki di galangan kapal Rembang ini
semuanya menjadi tanggungan EIC. Pada tahun 1813, pemerintah memberikan
anggaran rutin untuk biaya pengelolaan galangan kapal Rembang ini sebesar 2.000
gulden per tahun.
Pembuatan
kapal di galangan kapal Rembang memang mengalami kemajuan baik dalam jumlah
kapal yang dibuat maupun teknik pembuatan yang semakin baik. Sebenarnya tentang
teknik, dan jaminan keamanan bagi kapal yang akan dibuat menempuh pada jarak
pelayaran tertentu memang berbeda-beda. Akan tetapi sarana dasar bagi kapal
kayu yang didorong oleh angin, memiliki batasan teknik yang sama. Kapal ini
tidak melebihi ukuran tertentu, jumlah kondisi, permukaan layar, dan kecepatan.
Pada tahun 1813 di galangan ini telah mampu dibuat kapal layar cepat dan kapal
meriam, di samping memproduksi kapal-kapal kecil. Meskipun demikian cepat
tidaknya pembuatan kapal sangat bergantung pada jumlah para pekerja yang
melakukan pekerjaan itu. Pada bulan September tahun 1813, dilaporkan bahwa di
galangan ini telah dilakukan pekerjaan pembuatan yang terdiri dari enam buah
kapal meriam berkapasitas 30 orang yang dibuat dengan cara: dasar didempul,
lapisan kayu lengkap menutup papan kabin, tiang dan geladak; sebuah kapal layar
berkapasitas 20 orang; delapan kapal meriam tiang rendah lengkap dan siap
dikemudikan dengan kekecualian belum dilapisi tembaga; 10 perahu berkapasitas
10 orang dengan papan pada bagian dalam, serta sebuah perahu dengan geladak
dari papan pada bagian dalam.
Pembuatan
kapal di Rembang baik yang dilakukan oleh perusahaan swasta maupun oleh
penduduk pribumi di distrik pantai dapat berlangsung karena didukung oleh
keberadaan hutan jati di wilayah pedalaman Rembang. Dengan demikian maju
mundurnya pembuatan kapal di Rembang sangat bergantung pada eksploitasi hutan
jati dan segala aspek yang mempengaruhinya. Ketika pada tahun 1820 terjadi
pengurangan terhadap ganti rugi pemotongan kayu jati, maka sebagai akibatnya
adalah pembuatan kapal segera mengalami kemerosotan, meskipun pembuatan kapal
oleh penduduk pribumi di distrik pantai masih bisa bertahan.
Sering
terjadi pula, ketika pembuatan kapal swasta sedang meningkat tajam, tetapi
kondisi sulit juga muncul menyertainya. Hal ini disebabkan karena hutan jati
yang kayu-kayunya dicadangkan oleh pemerintah untuk menjadi bahan baku
pembuatan kapal, sering harus dikalahkan oleh pemerintah untuk memenuhi
kebutuhan kayu jati bagi pembangunan sarana dan prasarana sosial dan
pemerintahan. Sementara itu, pemerintah itu sendiri tidak mendapatkan kayu jati
karesidenan lain sebab hutan di tempat lain tidak mampu menunjang kegiatan ini.
Dengan demikian penduduk sering mengalami kekurangan kayu, karena di samping
tidak mau menggunakan kayu lain karena kekuatan yang kurang baik, juga karena
penduduk tidak terbiasa menggunakan kayu yang melengkung yang bisa dihasilkan
hutan untuk pembuatan kapal.
Di
samping itu, residen juga memperhatikan eksploitasi hutan jati yang cukup
tinggi. Untuk itu dibuat aturan, bahwa sebagian besar penduduk kini terlibat
dalam aktivitas kehutanan dan pekerjaan yang amat berat pada saat itu karena
penduduk diminta oleh pemerintah untuk bekerja dan menyerahkan hewan pemeliharaannya
untuk menarik kayu-kayu itu dari hutan ke tempat penimbunan atau sungai-sungai
untuk dialirkan ke muara.
Pembuatan
kapal sampai tahun 1832, tetap menjadi cabang industri yang paling utama di
Rembang, terutama telah memberikan kesempatan kepada pemerintah di Rembang
selama empat tahun belakangan ini untuk segera membuat sejumlah besar kapal dan
perahu tanpa banyak menemui kesulitan dalam bidang biaya. Namun demikian
beberapa tahun menjelang tahun 1836 terjadi penurunan produksi kapal. Hal ini
disebabkan karena penebangan hutan yang kayunya digunakan untuk membuat kapal
harus diserahkan kepada pemerintah, sedang kapal yang telah dibuat tidak diberi
harga yang cukup tinggi. Sementara itu para pemborong Browne dan Horning masih
memiliki persediaan kayu dari tahun sebelumnya, sehingga bisa bertahan untuk
memenuhi kebutuhannya. Pada tahun 1849 dilaporkan bahwa galangan kapal milik
Browne berkembang dengan pesat. Pada bulan Juli 1854, Firma Browne & Co di
Dasun telah mengadakan kontrak dengan Pangkalan militer Ourust yang berisi
pemesanan sebuah geladak dorong untuk kepentingan militer di Ourust. Geladak
dorong ini harus sudah selesai dikerjakan oleh galangan kapal Browne & Co
pada akhir bulan Mei 1856.
Namun
demikian kesulitan untuk mendapatkan kayu kembali menjadi penghambat kemajuan
galangan ini pada tahun 1864. Bahkan ketika Firma Nering, Bogel dan Dunlop
dapat tetap membangun geladak kapal dan kapal-kapal lain karena dapat
mendatangkan kayu-kayu dari lain tempat meskipun dengan harga yang sangat
mahal. Rupanya Pemerintah Pusat tetap beranggapan bahwa pembangunan geladak
dorong bagi pangkalan di Ourust sangat penting dan perlu disukseskan. Untuk itu
Direktur Perkebunan di Batavia akhirnya dapat menyetujui permohonan perusahaan
Firma Nering, Bogel, en Dunlop untuk melakukan penebangan kayu jati, tetapi
hanya diijinkan menebang sebanyak 400 balok kayu jati di hutan pemerintah di
distrik Sedan dan Pamotan.
Dengan
terbatasnya kayu jati ini telah menyebabkan galangan kapal di Dasub tidak
membuath kapal untuk kepentingan swasta pada tahun 1858, kecuali untuk
kepentingan pemerintah dan mengadakan perbaikan atau pembaharuan kapal untuk
kepentingan militer laut. Meskipun produksi kapal mengalami penurunan, tetapi
di galangan ini telah mencapai suatu kemajuan dalam teknik pembuatan kapal.
Sebagai bukti kemajuan ini bisa ditunjukkan pada tahun 1854 telah berhasil
dibuat beberapa kapal uap bersilinder dengan kekuatan sebesar 30 tenaga kuda.
Bahkan proyek ini telah menghasilkan kapal tempur yang ditujukan untuk
kepentingan daerah Banjarmasin yang menurut catatan Insinyur Kepala pada proyek
pembuatan kapal itu, dibuat selama 8 bulan di galangan kapal Browne en Co di
Dasun, dimatangkan lagi selama lima bulan di Surabaya. Beberapa bukti pelayaran
menurut laporan ini, semua sesuai dengan harapan.
Di
samping masalah kesulitan mendapatkan kayu jati, bertambahnya kapal uap di
Hindia Belanda juga berpengaruh terhadap perkembangan galangan kapal di Rembang
ini. Pada tahun 1880 kemerosotan ini sangat dirasakan. Akibat situasi ini
galangan kapal Rembang pada tahun 1883 hanya memberikan sedikit kemajuan
sehingga suatu tinjauan tentang aktivitasnya tidak banyak diberikan. Pada tahun
1885 galangan ini tidak banyak mengalami perkembangan, dan pada tahun 1889
pembuatan kapal besar tidak ditekuni lagi karena kekurangan modal kerja dan
pekerjaan.
Selanjutnya,
tentang perkembangan produksi serta perbaikan kapal di galangan kapal desa
Dasun ini dari tahun ke tahun cukup bervariasi. Pada tahun 1832 galangan kapal
ini membuat semua jenis perahu untuk pesanan orang-orang Eropa dan perahu
angkut barang. Pada tahun itu dilaporkan telah dibuat empat buah kapal. Empat
buah kapal pemerintah telah diselesaikan lagi pada tahun 1834 sementara
pembuatan kapal bagi kepentingan swasta, meskipun terus berjalan tetapi semakin
sulit karena mahalnya harga kayu jati yang terjadi pada tahun 1829. Akan tetapi
para pemborong masih banyak memiliki persediaan yang cukup besar dari kayu
sebelumnya, sehingga mereka masih bisa membuat perahu. Beberapa perahu dan
kapal “Maria Freberica” dibuat. Di samping itu, empat kapal sipil pemerintah
telah dibuat dan diselesaikan pada bulan November 1835. Kapal tersebut kemudian
dikirim ke Surabaya. Kemudian pada tahun 1936 diselesaikan tujuh perahu yang
terdiri dari lima buah kapal layar, sebuah kapal cepat, dan satu “kotler”.
Selanjutnya pada tahun 1839 berhasil diselesaikan dua buah kapal layar “tiang
dua” dan sebuah kapal layar cepat. Sementara pada tahun 1840, telah dibuat satu
kapal uap, tiga kapal layar “tiang tiga”, tiga kapal layar cepat, tiga perahu
angkut, satu perahu pancalang. Pada tahun 1852 telah diselesaikan enam kapal
pesanan pemerintah yang difungsikan sebagai kapal pengawas. Empat tahun setelah
itu, telah dihasilkan delapan kapal pengawas, dua kapal “sloep”, dua kapal angkut,
dua “loods boot”. Pada tahun 1857 telah diselesaikan pembuatan dua kapal tempur
yang dilapisi dengan tembaga dan sebuah kapal layar cepat atas biaya swasta.
Kecuali itu berbagai perahu mengalami banyak perbaikan di galangan Dasun ini.
Kemudian pada tahun 1858, di samping mengadakan perbaikan dan pembaharuan
geladak dorong untuk pangkalan militer di Ourust, telah diselesaikan pula tiga
kapal pengawas, tujuh kapal dayung, lima kapal angkut, sebuah kapal cepat dan
dua perahu mayang. Selanjutnya pada tahun 1865 telah dihasilkan enam buah kapal
cepat. Kemerosotan terjadi sejak tahun 1870, karena terjadinya penutupan hutan
jati di beberapa distrik, sehingga harga kayu jati mengalami peningkatan tajam.
Pada tahun 1880 diperoleh informasi bahwa galangan kapal Dasun hanya
memproduksi sabuah perahu dan dua kapal sungai, suatu produk yang tidak berarti
bagi pabrik kapal yang relatif besar dan tersohor itu. Tampaknya pada tahun
1886 galangan kapal ini tidak memperoleh pekerjaan pembuatan kapal baik dari
pemerintah maupun swasta, sehingga hanya membuat dan memperbaiki perahu-perahu
kecil saja. Untuk lebih jelasnya, produksi kapal dari galangan kapal di Dasun
ini dapat dilihat pada tanel berikut:
Perkembangan
Produksi kapal dan Galangan Kapal di Dasun Rembang pada tahun 1832 – 1880
Tahun Jumlah Kapal
1832 4
1834 4
1835 5
1836 7
1839 4
1840 11
1852 6
1856 14
1857 3
1858 18
1865 6
1880 3
Sumber
: Diolah dari AVRR dan K.V. dari
berbagai tahun.
Rabu, 31 Oktober 2012
Sekolah Terbesar di Dunia Berikan Siswa India Pelajaran Hidup
Hari pertama di kelas untuk setiap murid baru bisa menjadi pengalaman yang luar
biasa. Coba bayangkan rasanya belajar sebagai salah satu dari 40.000 murid yang
masuk di sekolah terbesar di dunia.
Penghargaan Guinness World Records terbaru dianugerahkan kepada City Montessori School di kota Lucknow, India dengan 39.437 siswa yang terdaftar pada tahun akademik 2010-2011.
Pihak sekolah mengatakan, jumlah pendaftaran telah meningkat di atas 45.000. Sekolah itu memiliki 2.500 guru, 3.700 komputer, 1.000 ruang kelas dan salah satu dari sebelas tim kriket yang paling tangguh.
City Montessori School dibuka oleh Jagdish Gandhi dan istrinya Bharti pada 1959 dengan pinjaman 300 rupee (setara Rp58.000 pada saat ini) dan hanya memiliki lima orang siswa.
Kini sekolah tersebut telah berkembang hingga lebih dari 20 lokasi di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, dan terkenal dengan hasil ujian dan program pertukaran internasional.
"Pertumbuhan fenomenal sekolah kami adalah refleksi dari upaya kami untuk menyenangkan orangtua melalui layanan terhadap anak-anak mereka," kata Gandhi, 75 tahun, yang masih menjabat dalam manajemen sekolah.
"Siswa kami memiliki hasil akademis yang luar biasa setiap tahun dan mendapatkan perhatian global yang luar biasa. Mendapatkan rekor Guinness sangat membesarkan hati kami, tapi ini bukan segalanya," katanya kepada AFP.
Para murid, yang berusia antara 3-17 tahun, semuanya berseragam dan masing-masing kelas menampung sekitar 45 murid, namun seluruh siswa di sekolah tidak pernah dikumpulkan secara bersama karena tidak ada tempat yang cukup besar untuk menampung mereka.
CMS, yang tidak menerima dana dari pemerintah, membebani biaya 1.000 rupee (sekitar Rp180 ribu) per bulan untuk biaya murid yang lebih muda, dan 2.500 rupee (sekitar Rp450 ribu) per bulan untuk senior.
"Dalam sekolah yang besar seperti itu, ada banyak keuntungan, salah satunya adalah Anda bisa berkenalan dengan banyak teman di seluruh lokasi sekolah yang kami miliki," kata Ritika Ghosh (14), yang telah bersekolah di CMS selama dua tahun kepada AFP.
"Tapi karena sekolah begitu besar, maka dibutuhkan banyak upaya untuk bisa mendapatkan perhatian. Jadi Anda hanya merupakan salah satu dari ribuan siswa yang belajar.
"Pasti Ada lebih banyak tantangan dan kompetisi, yang pada akhirnya mempersiapkan kita untuk kehidupan nyata."
Seorang siswa bernama Tanmay Tiwari (16) mengatakan bahwa ukuran sekolahnya yang besar membuatnya lebih percaya diri.
"Aku dulu sangat pemalu tapi sekolah telah memberi saya kepercayaan diri," katanya kepada AFP. "Sekarang saya masuk dalam tim perguruan tinggi dan ikut berdebat dalam kompetisi nasional."
Ukuran sekolah dibandingkan hanya dengan ambisi idealisnya, para siswa diajarkan tentang filosofi perdamaian universal dan globalisme di bawah moto "Jai Jagat" (Kemenangan untuk Dunia).
Dengan para siswa yang berada di bawah tekanan sengit untuk mendapatkan hasil ujian yang baik, olahraga tidak selalu menjadi prioritas utama, namun pelatih kriket Raju Singh Chauhan mengatakan bahwa ia menganggap pemilihan tim masih rumit.
"Untuk mendapatkan murid berbakat olahraga di antara 45.000 lebih siswa akan menjadi masalah besar," katanya.
"Untuk alasan ini kami mengadakan kompetisi antarcabang untuk menggali bakat anak-anak yang terbaik dan akhirnya kami mendapatkan gambaran yang lebih besar dan sebelas orang dari kami yang terbaik untuk masuk dalam tim."
CMS pertama kali memegang gelar sebagai sekolah terbesar di dunia pada 2005, ketika memiliki 29.212 siswa, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Rizal High School di Manila, Filipina, yang memiliki 19.738 siswa.
Para alumni sekolah tersebut meliputi Ushhan Gundevia, seorang bankir eksekutif di Goldman Sachs, dan Prakash Gupta, seorang diplomat senior PBB di New York, serta sarjana Harvard dan beberapa ahli bedah terkemuka serta ilmuwan.
"Sekolah merupakan inspirasi tidak hanya bagi siswa, tetapi juga untuk siapa saja, di mana saja yang ingin membuat perbedaan positif," kata Craig Glenday, editor Guinness World Records, kepada AFP dari London.
"Sekolah mengerti betul bahwa mengajar adalah profesi yang paling suci, dan dari asal-usul sederhana tersebut hingga menjadi yang terbesar, serta salah satu lembaga pendidikan yang paling dihormati di dunia, itu adalah cerita yang benar-benar menginspirasi dan menakjubkan."
Penghargaan Guinness World Records terbaru dianugerahkan kepada City Montessori School di kota Lucknow, India dengan 39.437 siswa yang terdaftar pada tahun akademik 2010-2011.
Pihak sekolah mengatakan, jumlah pendaftaran telah meningkat di atas 45.000. Sekolah itu memiliki 2.500 guru, 3.700 komputer, 1.000 ruang kelas dan salah satu dari sebelas tim kriket yang paling tangguh.
City Montessori School dibuka oleh Jagdish Gandhi dan istrinya Bharti pada 1959 dengan pinjaman 300 rupee (setara Rp58.000 pada saat ini) dan hanya memiliki lima orang siswa.
Kini sekolah tersebut telah berkembang hingga lebih dari 20 lokasi di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, dan terkenal dengan hasil ujian dan program pertukaran internasional.
"Pertumbuhan fenomenal sekolah kami adalah refleksi dari upaya kami untuk menyenangkan orangtua melalui layanan terhadap anak-anak mereka," kata Gandhi, 75 tahun, yang masih menjabat dalam manajemen sekolah.
"Siswa kami memiliki hasil akademis yang luar biasa setiap tahun dan mendapatkan perhatian global yang luar biasa. Mendapatkan rekor Guinness sangat membesarkan hati kami, tapi ini bukan segalanya," katanya kepada AFP.
Para murid, yang berusia antara 3-17 tahun, semuanya berseragam dan masing-masing kelas menampung sekitar 45 murid, namun seluruh siswa di sekolah tidak pernah dikumpulkan secara bersama karena tidak ada tempat yang cukup besar untuk menampung mereka.
CMS, yang tidak menerima dana dari pemerintah, membebani biaya 1.000 rupee (sekitar Rp180 ribu) per bulan untuk biaya murid yang lebih muda, dan 2.500 rupee (sekitar Rp450 ribu) per bulan untuk senior.
"Dalam sekolah yang besar seperti itu, ada banyak keuntungan, salah satunya adalah Anda bisa berkenalan dengan banyak teman di seluruh lokasi sekolah yang kami miliki," kata Ritika Ghosh (14), yang telah bersekolah di CMS selama dua tahun kepada AFP.
"Tapi karena sekolah begitu besar, maka dibutuhkan banyak upaya untuk bisa mendapatkan perhatian. Jadi Anda hanya merupakan salah satu dari ribuan siswa yang belajar.
"Pasti Ada lebih banyak tantangan dan kompetisi, yang pada akhirnya mempersiapkan kita untuk kehidupan nyata."
Seorang siswa bernama Tanmay Tiwari (16) mengatakan bahwa ukuran sekolahnya yang besar membuatnya lebih percaya diri.
"Aku dulu sangat pemalu tapi sekolah telah memberi saya kepercayaan diri," katanya kepada AFP. "Sekarang saya masuk dalam tim perguruan tinggi dan ikut berdebat dalam kompetisi nasional."
Ukuran sekolah dibandingkan hanya dengan ambisi idealisnya, para siswa diajarkan tentang filosofi perdamaian universal dan globalisme di bawah moto "Jai Jagat" (Kemenangan untuk Dunia).
Dengan para siswa yang berada di bawah tekanan sengit untuk mendapatkan hasil ujian yang baik, olahraga tidak selalu menjadi prioritas utama, namun pelatih kriket Raju Singh Chauhan mengatakan bahwa ia menganggap pemilihan tim masih rumit.
"Untuk mendapatkan murid berbakat olahraga di antara 45.000 lebih siswa akan menjadi masalah besar," katanya.
"Untuk alasan ini kami mengadakan kompetisi antarcabang untuk menggali bakat anak-anak yang terbaik dan akhirnya kami mendapatkan gambaran yang lebih besar dan sebelas orang dari kami yang terbaik untuk masuk dalam tim."
CMS pertama kali memegang gelar sebagai sekolah terbesar di dunia pada 2005, ketika memiliki 29.212 siswa, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Rizal High School di Manila, Filipina, yang memiliki 19.738 siswa.
Para alumni sekolah tersebut meliputi Ushhan Gundevia, seorang bankir eksekutif di Goldman Sachs, dan Prakash Gupta, seorang diplomat senior PBB di New York, serta sarjana Harvard dan beberapa ahli bedah terkemuka serta ilmuwan.
"Sekolah merupakan inspirasi tidak hanya bagi siswa, tetapi juga untuk siapa saja, di mana saja yang ingin membuat perbedaan positif," kata Craig Glenday, editor Guinness World Records, kepada AFP dari London.
"Sekolah mengerti betul bahwa mengajar adalah profesi yang paling suci, dan dari asal-usul sederhana tersebut hingga menjadi yang terbesar, serta salah satu lembaga pendidikan yang paling dihormati di dunia, itu adalah cerita yang benar-benar menginspirasi dan menakjubkan."
(Sumber: Oleh Yahoo! News
| AFP , Sagarika
Dubey | AFP)
568 Orang Meninggal Akibat HIV/AIDS di Jateng
Jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang meninggal di Jawa Tengah sudah
mencapai 568 orang atau 10,91 persen dari data penderita 5.206 orang. Jumlah
itu menempatkan provinsi ini di urutan ke enam terbanyak di Indonesia.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Magelang, Drs H Asfuri Muhsis MSi, menyebutkan, yang terinfeksi HIV (Human immunodeficiency virus) 2.646 orang. “Yang menderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) 1.992 orang,” katanya, Senin (18/6), dalam sosialisasi warga peduli AIDS (WPA).
Menurut dia, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Magelang, sampai April 2012, terdapat 24 kasus. Rinciannya, 15 positif terinfeksi HIV, Sembilan kasus AIDS dan meninggal sembilan orang (37,5 persen). Menurut dia, dari berbagai peristiwa penularan HIV/AIDS berkaitan dengan perilaku yang menyimpang.
Karena itu program kegiatan KPA Kabupaten Magelang lebih diarahkan pada upaya pencegahannya. (Tuhu Prihantoro / CN26 / JBSM)
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Magelang, Drs H Asfuri Muhsis MSi, menyebutkan, yang terinfeksi HIV (Human immunodeficiency virus) 2.646 orang. “Yang menderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) 1.992 orang,” katanya, Senin (18/6), dalam sosialisasi warga peduli AIDS (WPA).
Menurut dia, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Magelang, sampai April 2012, terdapat 24 kasus. Rinciannya, 15 positif terinfeksi HIV, Sembilan kasus AIDS dan meninggal sembilan orang (37,5 persen). Menurut dia, dari berbagai peristiwa penularan HIV/AIDS berkaitan dengan perilaku yang menyimpang.
Karena itu program kegiatan KPA Kabupaten Magelang lebih diarahkan pada upaya pencegahannya. (Tuhu Prihantoro / CN26 / JBSM)
(Sumber: suaramerdeka.com, 18 Juni 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)

