Rabu, 20 Februari 2019

AL-ISTIQOMAH, MASJID JUJUGAN PARA MUSAFIR DI PAMOTAN

Bagi para pelancong, musafir, yang bepergian dari arah Rembang menuju Pamotan dan sekitarnya, tidak perlu khawatir, kemana hendak menunaikan salat. Tepatnya di timur perempatan desa Japerejo Pamotan, berdiri masjid megah nan artistik. Masjid itu bernama Masjid Al Istiqomah.
Posisi masjid ini sangat strategis, tidak jauh dari perempatan. Yang mana empat arah perempatan adalah menuju kota-kota yang penting di Rembang.

Masjid terlihat dari arah Rembang

Dari barat masjid Al Istiqomah tampak terlihat menonjol dan sangat indah nan artistik. Karena tempatnya yang strategis itulah barangkali mengapa masjid ini begitu ramai setiap harinya. Orang dari arah mana saja banyak mampir untuk melakukan salat di masjid ini.

Masjid Al Istiqomah dari halaman depan

Dengan halaman yang luas, orang yang datang ke sini terasa bebas hambatan. Tidak ada petugas parkir di sini. Atau semacam satpam yang mengawasi pendatang. Memelototi pengunjung masjid ataupun menghitung jumlah kendaraan yang ada. Semuanya bebas. 24 jam. Karenanya tidak ada pintu pagar di masjid ini.
Orang dari kalangan apapun bisa di sini. Tidak harus ustadz, orang khusyuk, atau orang ahli jamaah. Orang model apapun bisa mampir di masjid ini, tanpa takut ditanya petugas satpam. Orang yang datang malam-malam hanya sekedar mampir tiduran melepas penat pun bisa diterima di sini. Bukankah ini rumah Allah?
Menara tempat bedug,dan tempat wudhu di sebelahnya.

Pengunjung sembarang orang bisa di sini tanpa ada rasa was was. Untuk saat ini barangkali pengunjung yang asal mampir sekedar berteduh, sudah salat di rumah, atau di masjid lain. Kali ini di sini, ia perlu melepaskan penat. Atau remaja huru hara sekalipun, barngkali lain kali ia akan menjadi orang khusyuk, karena terkesan dengan kebaikan pengelola masjid ini. Masjid yang penuh kearifan barangkali.

Al Istiqomah terlihat dari timur, dari depan Kantor Desa Japerejo

Kiranya semangat pengurus masjid Al Istiqomah cocok dengan semangat perjuangan Sunan Kalijaga yang ingin umatnya mau datang ke Masjid. Sunan Kalijaga sampai harus mengadakan pertujukan wayang kulit agar masyarakat mau datang ke Masjid. Tidak seperti zaman modern saat ini, pengurus masjid memperlakukan masjid seperti sebuah museum. Orang yang datang ke masjid justru malah diawasi. Diberi karcis, agar bisa dihitung pengunjungnya. Jika perlu pengunjung disemprot karena bersikap yang tidak cocok dengan satpam masjid. Di sisi lain pengurus woro-woro ke masyarakat agar datang ke masjid untuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh takmir, tapi yang datang hanya segelintir orang.

Rabu, 24 Desember 2014

Maka, BERMIMPILAH


Berawal dari mimpi, kemudian menjadi kenyataan. Terkadang kenyataan lebih heboh dari mimpi tersebut. Seperti Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil Presiden kita punya mimpi akan kemerdekaan Indonesia. Yang terjadi kemudian tidak terduga, seperti yang kemudian kita nikmati saat ini. Benar-benar sebuah Rahmat Allah SWT yang luar biasa. Dan Anda pun pasti punya mimpi, kejarlah mimpi tersebut. Di bawah ini ada artikel bagus dari Studenpreuner yang patut kita baca untuk dijadikan cambuk semangat. sumangga.....

Jangan Biarkan Orang Lain Mencuri Mimpi Anda“Bermimpilah seakan-akan Anda akan hidup selamanya. Hiduplah seakan-akan Anda akan mati hari ini.” James Dean.
*Catatan Editor: Tiap hari Sabtu dan Minggu, Studentpreneur akan menerbitkan artikel bersifat tips dan opini milik ahli-ahli luar negeri yang disegani. Para ahli mengirimkan naskah dalam bahasa inggris, dan kami terjemahkan untuk Anda. Kali ini penulis adalah Ron Smith, aktor film di Amerika. Mimpi adalah hal paling penting bagi pebisnis, dan Ron Smith berhasil menggambarkannya dengan baik!*

Dari waktu kita membuka mata kita, kita sudah menggapai dan menggenggam sesuatu.Dan hampir di waktu yang sama, kita diberi tahu bahwa kita tidak bisa memilikinya. Namun tetap, semua mimpi dan cita-cita dibuat untuk kita, sebagai manifesto atau bayangan tentang siapa kita, akan jadi apa kita, dan apapun yang kita lakukan dalam hidup. Banyak dari kita yang tidak mengenali mimpi kita, mengacuhkannya, atau bahkan tidak tahu bahwa mereka ada, sehingga kita terjebak, seperti budak dalam kehidupan hanya untuk sekedar bisa bertahan. Bagi orang-orang tersebut, mimpi adalah sesuatu yang tidak nyata, hanya dongeng dalam mimpi, bukan nasib kita. Namun sebenarnya, mimpi kita adalah kekuatan kita, sumber kehidupan kita, dan tujuan kenapa kita dilahirkan.
Beberapa saat setelah ulang tahun kelima, Mozart menciptakan empat concerto piano pertamanya. Mozart tahu apa tujuan hidupnya bahkan sebelum kita semua belajar membaca dan menulis, dan Mozart mulai untuk menjadikannya nyata. Bagaimana kalau seandainya dia tidak melakukannya, menunggu hingga kehilangan kesenangan dalam menciptakan? Bagaimana kalau seandainya seseorang mengatakan bahwa dia tidak punya talenta, terlalu muda untuk menciptakan komposisi, dan Mozart mendengarkan kritik tersebut, tidak mengikut kata hatinya? Bagaimana kalau dia melihat ke arah lain ketika pertama kali dia mendengar alat musik atau saat music pertama kali bermain di kepalanya?
Sayangnya, dalam dunia yang penuh keegoisan dan individu, kecemburuan, dan kurangnya visi, hal ini banyak terjadi pada kita. Kecuali kita hanya mendengar isi hati saja, kita biasanya mulai meragukan mimpi kita, dan kemungkinan untuk bisa memperolehnya. Kita mendengarkan semua alasan negatif dan kemungkinan gagal yang besar dari orang-orang yang tidak pernah tahu siapa kita, dan mereka mengucapkannya dari tempat yang jauh, hanya melalui sudut pandang mereka yang sempit. Bayangkan saja ketika kita menyetir, kita disuruh fokus dan mendengarkan arahan dari orang buta yang duduk di kursi belakang. Dan kita sering terjebak dalam pemikiran apakah mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan, apakah boleh untuk gagal, atau lebih parah, kita jadi berpikir untuk sama sekali tidak mencoba.

Pelukis Amerika terkenal Thomas Benton mengatakan: “Seniman hanya gagal ketika dia telah berhenti bekerja.”Dengan kata lain, Anda adalah apa yang Anda percayai, lalu melakukan apa yang Anda ingin lakukan, “panggilan hati”. Dan apabila Anda tidak melakukannya, Anda telah gagal. Anda tidak akan pernah gagal apabila melakukan panggilan hati tersebut. Tidak ada hasil seni yang sama dengan yang lain. Namun apabila Anda tidak berusaha menyelesaikannya, ketika Anda mengizinkan seseorang mencuri impian Anda, menutup cita-cita Anda, menahan Anda bergerak maju untuk memenuhi panggilan hati, itulah saat dimana Anda gagal secara menyedihkan.
Ironisnya, ketika Anda mengikuti mimpi dan memberikan yang terbaik, tidak ada kegagalan, tidak ada kekalahan, hanya ada perjalanan untuk menggerakkan sesuatu yang lebih dalam di hati Anda. Seberapa keras Anda bekerja untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah pilihan Anda sendiri. Namun, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah jangan izinkan siapapun mencuri mimpi dari diri Anda. Anda harus mempunyai kulit seperti badak dan kegigihan sekuat benteng Fort Kox. Barulah Anda tidak akan diintimidasi oleh orang lain.

Sejak awal Saya menulis Saya mendapatkan banyak hinaan dan dukungan, sesuatu yang umum bagi penulis.
Saya tahu ada sesuatu di dalam diri yang terhubung dengan kata dan cerita, dengan puisi dan jalur hidup, dan Saya akan menjadi sesuatu dengannya. Ini bukan soal berapa banyak uang yang akan Saya hasilkan; ini soal tidak ingin melakukan hal lain dan hanya ingin melakukan hal yang Saya cintai. Orang lain banyak yang heran kenapa Saya melakukan ini. Saya percaya bahwa Saya lebih hebat, lebih cemerlang, dan lebih berbakat dari mereka. Saya selalu heran dengan begitu banyaknya hal negative dalam masyarakat, hingga banyak orang yang sering meragukan pilihan hidup orang lain, tentang kenapa jiwa kita mengejar sesuatu, dan terkadang kritik tersebut datang dari orang yang dekat dengan kita.

Saya tahu bahwa hal tersebut adalah reaksi yang buruk. Mengherankan namun sangat menakjubkan. Kenapa tidak semua orang berkata, “Oh, pilihan karirmu hebat sekali, kejarlah! Saya ingin sekali melihat karyamu”, sesuatu yang akan selalu Saya ucapkan bila mendengar mimpi seseorang. Namun Saya menyadari bahwa kebanyakan orang akan berusaha menjatuhkan Anda, sesering mereka dijatuhkan oleh orang lain, oleh kehidupan, oleh keraguan, dan tidak percaya diri. Mereka akan berusaha membenarkan alasan untuk tidak bermimpi, untuk tidak mencoba, dan mereka akan berusaha mati-matian agar Anda juga tidak mengejar mimpi Anda. Mereka sangat semangat untuk menggagalkan Anda. Meskipun Saya sangat tertarik dan yakin terhadap keajaiban dan kekuatan kata-kata, mereka terlalu takut terhadap mimpi tersebut, sehingga sering menghina dan mengarang fakta bahwa Saya tidak berbakat.

Saya ingat seseorang berkata, “Ada banyak orang yang lebih pintar dari Saya dan kamu, Ron,” seperti seakan-akan IQ yang paling penting, lebih penting dari kecerdasan imajinasi. Seperti seakan-akan jiwa dan hati bukan hal penting dalam karya. Dari awal, tidak ada rancangan untuk seniman: penulis, pelukis, pembuat puisi, penyanyi, aktor, dancer, semuanya berbeda, dan semuanya memiliki cara sendiri untuk berkontribusi, menunjukkan kebenaran. Saya kagum dengan beberapa penulis, bosan dengan beberapa lainnya, namun tidak pernah sekalipun menghina mimpi seseorang untuk menulis. Saya yakin dalam sebuah titik, seseorang bisa menulis sesuatu yang orang lain tidak bisa, yang akan dibaca dan dikagumi sampai ribuan tahun.
Kritikan negatif akan sering Anda terima apabila Anda seniman. Baca saja kisah sukses penulis dan seniman, pasti banyak cerita tentang bagaimana keluarga dan lingkungan mereka melarang mereka untuk mengikuti mimpi. Keluarga Picasso sangat menghina karyanya, mengatakannya vulgar. Ayahnya adalah seorang pelukis pemandangan biasa, dan sangat takut melihat karya Picasso yang melukis orang sirkus, orang miskin, orang jalanan, preman dan pelacur. Keluarga dari Bruce Dern, artis terkenal, juga sangat melarang dia menjadi actor. Keluarganya percaya bahwa profesi artis menurunkan derajat mereka, yang merupakan politikus ahli. Namun, Bruce tidak peduli, akting dia sangat bagus, dan benar-benar mengejar mimpinya sendiri, terus berjuang untuk mewujudkannya.

Karena mimpi Anda bukan milik orang lain.
Mimpi Anda adalah milik Anda. Keluarga, teman, dan orang asing mungkin punya rencana untuk Anda, melihat Anda melalui lensa mereka sendiri, imajinasi terbatas, ego mereka sendiri, serta menghargai hal-hal yang berbeda dengan Anda. Mereka mungkin merasa akan menyelamatkan Anda dengan melarang. Ada banyak alasan untuk orang lain mencuri mimpi Anda, baik sengaja ataupun tidak, namun alasan mereka benar-benar tidak penting. Tidak ada yang tahu siapa diri Anda, tidak ada kecuali Anda sendiri, lalu kenapa mereka merasa tahu tentang takdir dan tujuan hidup Anda? Bagaimana orang lain bisa yakin mereka tahu tentang mimpi Anda?

Seseorang pernah mengatakan, apabila Anda bertanya pada diri sendiri tentang sesuatu yang serius, ketika Anda satu-satunya yang mendengarkan, Anda harus menjawab dengan jujur. Itu juga berkaitan dengan mimpi Anda. Apabila Anda bertanya tentang apa mimpi yang membuat Anda semangat, entah itu baru muncul atau sudah dari kecil, Anda tidak boleh mengizinkan seseorang mencurinya dari Anda. Terus kejar dengan semangat membara, yang semakin besar ketika dihina oleh orang lain. Buang semua kata negatif, reaksi, dan hinaan yang membuat Anda keluar jalur. Bekerjalah tiap hari meskipun banyak anjing menggonggong di sekitar Anda, hingga tidak ada lagi orang yang ragu pada Anda, hingga pencuri mimpi tersebut tidak bisa lagi mencuri mimpi Anda.

Mimpi Anda adalah milik Anda, dan hanya untuk Anda. Tidak ada yang bisa mengambilnya dari Anda selama Anda tidak mengizinkannya. Apabila Anda tidak mengejarnya, tidak akan ada yang mengejarnya.
Bawa mimpi Anda dalam kehidupan dan berlarilah bersamanya!
Mari berdiskusi di kolom komentar! Anda juga bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur. [Photo Credit: Marina]


Senin, 15 Desember 2014

INGIN BERBISNIS ?

Akhir-akhir ini saya menjadi suka membaca artikel tentang entrepreneur. Sebuah artikel mempelajari cara berbisnis yang baik. Dan Alhamdulillah dampaknya sungguh baik. Saya jadi bersemangat untuk berbisnis sendiri hingga sukses. Untuk lebih jelasnya, mari kita baca artikel dari situs STUDENTPREUNEUR. 


Ingin Jadi Entrepreneur? Hindari 5 Ketakutan Berikut Ini!

 “Get things done” adalah mantra yang harus Anda praktekkan apabila ingin sukses dalam bisnis
(Lewis Howes)


Sobat Studentpreneur yang ingin menjadi entrepreneur pasti sudah sadar tentang banyaknya hal yang bisa menjadi alasan untuk tidak jadi berbisnis atau juga bisa membuat bisnis kita terhambat. Ketakutan konyol seperti tidak mempunyai gelar sarjana pada bidang tertentu, sampai tidak punya pengalaman dalam dunia bisnis menjadi alasan paling sering digunakan untuk menghambat kita. Well, Saya menemukan video menarik dari Lewis Howes yang menjelaskan tentang 5 ketakutan terbesar seorang entrepreneur pemula dan bagaimana cara mengatasinya. Bagi Sobat Studentpreneur yang kesulitan Bahasa Inggris, Saya akan membantu Anda untuk memahaminya!

Ketakutan Pertama – Kurang Percaya DiriPenyakit paling kronis dari semua pemula adalah kurang percaya diri, apalagi kalau Anda belum pernah menjalankan bisnis sebelumnya. Trik untuk mengatasi penyakit ini adalah cobalah melakukan breakdown goal Anda yang besar ke target-target yang kecil. Perlahan, wujudkan target-target kecil tersebut. Secara psikologis, kemenangan-kemenangan kecil akan membuat Anda menjadi lebih percaya diri dan berani untuk mengambil tantangan untuk menyelesaikan goal yang lebih besar lagi.

Ketakutan Kedua – Anda Berpikir Bahwa Anda Membutuhkan Sebuah Produk Sebelum Menjualnya
Banyak yang gagal berbisnis karena baru mulai menjualnya ketika produknya sudah ada. Lebih parah lagi, ternyata produk tersebut adalah produk yang tidak diinginkan oleh pasar. Cobalah membuat prototype kecil-kecilan dan pamerkan hal tersebut pada orang lain. Tanyalah pada mereka apakah mereka mau membelinya. Anda bisa tawarkan harga khusus pre-order kepada calon pelanggan yang tertarik. Apabila respon pasar positif, Anda tinggal fokus pada pengembangan produk dan menyelesaikan pesanan pre-order tersebut.

Ketakutan Ketiga – Anda Ingin Semuanya Sempurna
Banyak sekali entrepreneur pemula yang membuang waktunya untuk fokus kepada hal yang salah. Contoh, mereka menghabiskan waktu puluhan jam untuk merevisi logo perusahaan padahal produknya sendiri malah tidak diperbaiki. Ada juga yang fokus pada pengembangan produk, ingin produknya sempurna, namun malah akhirnya tidak pernah di launching karena merasa belum sempurna. “Get things done” adalah mantra yang harus Anda praktekkan apabila ingin sukses dalam bisnis. Keluarkan saja produk yang “belum sempurna” ke pasar, lihat reaksi mereka, dan perbaiki sesuai keinginan mereka. Momentum adalah segalanya dalam bisnis

Ketakutan Nomor Empat – Saya Tidak Punya Modal dan InvestorIni adalah alasan dan ketakutan yang paling sering digunakan oleh orang untuk tidak berbisnis. Saya tahu banyak sekali entrepreneur yang memulai segalanya dari modal hutang, dan bahkan hanya dari uang pinjaman keluarga. Mereka membangun bisnis dengan semangat 45, penuh keringat dan tekat. Atasi kekurangan modal dengan berusaha keras, membangun jaringan yang akan membantu bisnis Anda, dan menjadi super kreatif untuk mengalahkan pesaing yang mungkin mempunyai modal lebih besar. Cobalah berpikir di luar zona nyaman Anda!

Ketakutan Nomor Lima – Saya Tidak Punya Pengalaman dan Gelar Sarjana di Bidang Bisnis
Anda merasa harus kuliah di bidang tertentu dulu untuk mendapatkan ilmu yang diperlukan dalam bisnis? Well, tidak sepenuhnya salah. Namun, Anda juga bisa belajar secara online untuk mendapatkan pengetahuan yang diperlukan dalam bisnis. Cobalah berbagai platform luar biasa seperti Coursera untuk belajar manajemen dan operasional, atau Codecademy untuk belajar coding. Untuk mengatasi kurangnya pengalaman dalam bisnis, bagaimana Anda bisa berpengalaman kalau belum pernah berbisnis? Cobalah mencari mentor yang tepat untuk mengatasinya. Belajarlah dari keberhasilan dan kegagalan mereka!
Sobat Studentpreneur, apalagi yang Anda takutkan untuk berbisnis? Silahkan share pengalaman dan ketakutan Anda tentang bisnis dalam fitur comment di artikel ini.

Sabtu, 05 Januari 2013

OBYEK WISATA UTAMA DI LASEM (4) GALANGAN KAPAL DASUN

Sejak jaman kerajaan Majapahit Lasem telah menjadi salah satu pusat pembuatan kapal. Prestasi ini terus berlangsung pada masa kerajaan Islam Demak yang memiliki armada yang kuat. Dua kali armada Demak menyerang posisi Portugis di Malaka dengan kekuatan sekitar 100 buah kapal lebih. Meskipun mengalami kegagalan, namun serangan itu menunjukkan bahwa kerajaan Demak pernah memiliki armada laut yang cukup tangguh di Asia Tenggara. Dalam hal ini sebagian kapal-kapal itu dibuat di Lasem.
Pada masa Mataram, kapal yang dibuat di galangan ini digunakan untuk kepentingan perdagangan baik oleh pihak VOC atau para Bupati, maupun pihak swasta. Galangan kapal Rembang ini berlokasi di muara Sungai Lasem atau tepatnya di desa Dasun.
Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan tradisi pembuatan kapal di Rembang mulai berlangsung. Akan tetapi diperkirakan bahwa tradisi membuat kapal itu sudah berlangsung sebelum abad XVI. Misalnya, ketika Demak melakukan ekspedisi militer ke Malaka untuk mengusir Portugis, sebagian kapal yang dugunakan dibuat  dan dikirim dari Rembang. Tradisi kemaritiman dalam hal teknologi dan industri kapal terus mengalami perubahan. Pengaruh terbesar atas perkapalan Samudera Hindia adalah tibanya kapal-kapal Atlantik sejak akhir abad XVI. Desain tiang perlahan-lahan diubah sampai bentuk kapal tradisional yang lebih kuat dihasilkan. Di berbagai galangan pembuatan kapal Asia, kapal lokal dapat meniru model kapal Atlantik. Menurut Bernard H.M. Viekke, perkembangan kapal di Indonesia pada akhir abad XV, juga dipengaruhi oleh bentuk-bentuk kapal dari negara-negara Asia lain, seperti Pegu dan Birma. Hal ini terjadi karena adanya hubungan perdagangan laut antara negara-negara di Asia yang sudah berlangsung lama.
Pada masa Mataram Kartasura, VOC berhasil mendirikan kantor di Demak dan Rembang yang dianggap mutlak perlu karena kaya akan kayu, sehingga di kedua tempat itu didirikan sebuah galangan kapal. Sejak kapan pendirian galangan kapal oleh VOC di Rembang juga tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi diperkirakan antara tahun 1651 sampai 1677. Tahun 1651 merupakan tahun diadakannya perdamaian antara VOC dengan Amangkurat I, sehingga VOC diberi ijin untuk membuka kantor di Jepara, dan tidak menutup kemungkinan VOC telah merintis dan membuka kantor di Rembang. Salah satu alasan utama bagi Kompeni untuk membuka loji di Jepara adalah adanya kesempatan baik untuk membuat kapal-kapal kici (jacht) yang sangat diperlukan. Oleh karena itu instruksi Residen pertama Dick Schouten melihat kesempatan yang baik dan harganya pun murah, sehingga dipesan sedikitnya tiga kapal kici berukuran 70 sampai 60 last, dan kapal-kapal itu selesai dibuat pada bulan November 1651.
Sementara pada tahun 1677, diceritakan tentang kejadian orang-orang Makasar yang sampai di kota Rembang yang dapat menghancurkan kota Rembang serta perahu-perahu baru Kompeni di galangan kapal milik Daniel Dupree dalam pemberontakan Trunojoyo.. Pada masa itu, galangan kapal Rembang menjadi produsen kapal untuk memenuhi kebutuhan kapal baik bagi Mataram maupun VOC. Pada tahun 1657, Amangkurat I memerintahkan Tumenggung Pati untuk membuat sebuah kapal untuk Mataram dan sebuah kapal lagi dipesan oleh Duta Makasar.
Tentang siapa pengelola dan pemilik galangan kapal Rembang itu, pertama-tama bisa disebut nama Daniel Dupree seorang pengusaha kayu swasta sebgaimana banyak disebut oleh H.J. de Graff. Akan tetapi tidak diperoleh data yang menjelaskan kapan Daniel Dupree ini mulai memimpin galangan kapal tersebut. Ketika galangan kapal miliknya dapat dihancurkan oleh para pemberontak dari Makasar yang mendukung Trunojoyo, glangan ini sempat dibubarkan pada tahun 1677, tetapi dibangun lagi oleh VOC pada tahun 1679 setelah pemberontakan berhasil dipadamkan. Tidak diketahui, apakah setelah galangan itu dibangun kembali dia masih dengan para penggantinya, tidak diketahui sejak kapan mereka mulai dan berakhir memiliki galangan tersebut. Pada tahun 1832 diketahui, Tuan Horning menjadi pemilik galangan dan Tuan Browne menjadi pemborong. Kemudian pada tahun 1836, galangan itu dimiliki oleh Tuan Perry sedangkan Browne dan Horning menjadi pemborong. Pada tahun 1849 diketahui sebagai pemilik galangan yaitu Browne en Co, sebagai perusahaan patungan. Selanjutnya pada tahun 1878 diketahui bahwa pemilik galangan itu adalah sebuah firma, yang bernama Firma Nering Bogel en Dunlop.
Galangan kapal di Rembang ini telah memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan perkapalan dan pelayaran baik yang berlangsung di wilayah Rembang maupun wilayah lain yang menggunakan jasa pembuatan kapal di Rembang. Pelabuhan Rembang menjadi ramai antara lain juga disebabkan oleh galangan kapal ini. Banyak kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Rembang di samping untuk berdagang juga melakukan perbaikan terhadap kapal-kapal mereka di geladak kapal Rembang. Dengan demikian galangan kapal di Rembang menjadi tempat pembuatan maupun perbaikan kapal.
Pada tanggal 3 Juli 1813, galangan kapal Rembang telah berhasil diperbaiki 20 perahu dan 14 kapal meriam yang telah dikirim kembali ke Batavia dalam kondisi yang baik. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1813 telah berhasil pula diperbaiki 30 kapal yang digunakan untuk mengangkut garam dan beras dari satu daerah ke daerah lain. Pada bulan Oktober juga telah dikirim sebuah kapal meriam oleh Residen Jepara ke galangan kapal Rembang untuk diperbaiki. Kapal tersebut setelah selesai dibawa ke Banjarmasin oleh Residen Jepara untuk menumpas pemberontak. Memang galangan kapal Rembang menjadi pusat bengkel kapal di Jawa karena pada saat itu, galangan ini merupakan galangan yang cukup besar di Hindia Belanda. Namin demikian bagi kapal-kapal yang rusak berat, misal lantai kapal jebol sehingga air laut masuk, tidak bisa diperbaiki di Rembang, kecuali diperbaiki untuk sementara saja. Perbaikan kapal yang rusak berat menelan biaya sampai 3.000 gulden, sedangkan bagi kapal yang rusak ringan bisa mencapai 500 gulden. Kapal-kapal pemerintah yang diperbaiki di galangan kapal Rembang ini semuanya menjadi tanggungan EIC. Pada tahun 1813, pemerintah memberikan anggaran rutin untuk biaya pengelolaan galangan kapal Rembang ini sebesar 2.000 gulden per tahun.
Pembuatan kapal di galangan kapal Rembang memang mengalami kemajuan baik dalam jumlah kapal yang dibuat maupun teknik pembuatan yang semakin baik. Sebenarnya tentang teknik, dan jaminan keamanan bagi kapal yang akan dibuat menempuh pada jarak pelayaran tertentu memang berbeda-beda. Akan tetapi sarana dasar bagi kapal kayu yang didorong oleh angin, memiliki batasan teknik yang sama. Kapal ini tidak melebihi ukuran tertentu, jumlah kondisi, permukaan layar, dan kecepatan. Pada tahun 1813 di galangan ini telah mampu dibuat kapal layar cepat dan kapal meriam, di samping memproduksi kapal-kapal kecil. Meskipun demikian cepat tidaknya pembuatan kapal sangat bergantung pada jumlah para pekerja yang melakukan pekerjaan itu. Pada bulan September tahun 1813, dilaporkan bahwa di galangan ini telah dilakukan pekerjaan pembuatan yang terdiri dari enam buah kapal meriam berkapasitas 30 orang yang dibuat dengan cara: dasar didempul, lapisan kayu lengkap menutup papan kabin, tiang dan geladak; sebuah kapal layar berkapasitas 20 orang; delapan kapal meriam tiang rendah lengkap dan siap dikemudikan dengan kekecualian belum dilapisi tembaga; 10 perahu berkapasitas 10 orang dengan papan pada bagian dalam, serta sebuah perahu dengan geladak dari papan pada bagian dalam.
Pembuatan kapal di Rembang baik yang dilakukan oleh perusahaan swasta maupun oleh penduduk pribumi di distrik pantai dapat berlangsung karena didukung oleh keberadaan hutan jati di wilayah pedalaman Rembang. Dengan demikian maju mundurnya pembuatan kapal di Rembang sangat bergantung pada eksploitasi hutan jati dan segala aspek yang mempengaruhinya. Ketika pada tahun 1820 terjadi pengurangan terhadap ganti rugi pemotongan kayu jati, maka sebagai akibatnya adalah pembuatan kapal segera mengalami kemerosotan, meskipun pembuatan kapal oleh penduduk pribumi di distrik pantai masih bisa bertahan.
Sering terjadi pula, ketika pembuatan kapal swasta sedang meningkat tajam, tetapi kondisi sulit juga muncul menyertainya. Hal ini disebabkan karena hutan jati yang kayu-kayunya dicadangkan oleh pemerintah untuk menjadi bahan baku pembuatan kapal, sering harus dikalahkan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kayu jati bagi pembangunan sarana dan prasarana sosial dan pemerintahan. Sementara itu, pemerintah itu sendiri tidak mendapatkan kayu jati karesidenan lain sebab hutan di tempat lain tidak mampu menunjang kegiatan ini. Dengan demikian penduduk sering mengalami kekurangan kayu, karena di samping tidak mau menggunakan kayu lain karena kekuatan yang kurang baik, juga karena penduduk tidak terbiasa menggunakan kayu yang melengkung yang bisa dihasilkan hutan untuk pembuatan kapal.
Di samping itu, residen juga memperhatikan eksploitasi hutan jati yang cukup tinggi. Untuk itu dibuat aturan, bahwa sebagian besar penduduk kini terlibat dalam aktivitas kehutanan dan pekerjaan yang amat berat pada saat itu karena penduduk diminta oleh pemerintah untuk bekerja dan menyerahkan hewan pemeliharaannya untuk menarik kayu-kayu itu dari hutan ke tempat penimbunan atau sungai-sungai untuk dialirkan ke muara.
Pembuatan kapal sampai tahun 1832, tetap menjadi cabang industri yang paling utama di Rembang, terutama telah memberikan kesempatan kepada pemerintah di Rembang selama empat tahun belakangan ini untuk segera membuat sejumlah besar kapal dan perahu tanpa banyak menemui kesulitan dalam bidang biaya. Namun demikian beberapa tahun menjelang tahun 1836 terjadi penurunan produksi kapal. Hal ini disebabkan karena penebangan hutan yang kayunya digunakan untuk membuat kapal harus diserahkan kepada pemerintah, sedang kapal yang telah dibuat tidak diberi harga yang cukup tinggi. Sementara itu para pemborong Browne dan Horning masih memiliki persediaan kayu dari tahun sebelumnya, sehingga bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhannya. Pada tahun 1849 dilaporkan bahwa galangan kapal milik Browne berkembang dengan pesat. Pada bulan Juli 1854, Firma Browne & Co di Dasun telah mengadakan kontrak dengan Pangkalan militer Ourust yang berisi pemesanan sebuah geladak dorong untuk kepentingan militer di Ourust. Geladak dorong ini harus sudah selesai dikerjakan oleh galangan kapal Browne & Co pada akhir bulan Mei 1856.
Namun demikian kesulitan untuk mendapatkan kayu kembali menjadi penghambat kemajuan galangan ini pada tahun 1864. Bahkan ketika Firma Nering, Bogel dan Dunlop dapat tetap membangun geladak kapal dan kapal-kapal lain karena dapat mendatangkan kayu-kayu dari lain tempat meskipun dengan harga yang sangat mahal. Rupanya Pemerintah Pusat tetap beranggapan bahwa pembangunan geladak dorong bagi pangkalan di Ourust sangat penting dan perlu disukseskan. Untuk itu Direktur Perkebunan di Batavia akhirnya dapat menyetujui permohonan perusahaan Firma Nering, Bogel, en Dunlop untuk melakukan penebangan kayu jati, tetapi hanya diijinkan menebang sebanyak 400 balok kayu jati di hutan pemerintah di distrik Sedan dan Pamotan.
Dengan terbatasnya kayu jati ini telah menyebabkan galangan kapal di Dasub tidak membuath kapal untuk kepentingan swasta pada tahun 1858, kecuali untuk kepentingan pemerintah dan mengadakan perbaikan atau pembaharuan kapal untuk kepentingan militer laut. Meskipun produksi kapal mengalami penurunan, tetapi di galangan ini telah mencapai suatu kemajuan dalam teknik pembuatan kapal. Sebagai bukti kemajuan ini bisa ditunjukkan pada tahun 1854 telah berhasil dibuat beberapa kapal uap bersilinder dengan kekuatan sebesar 30 tenaga kuda. Bahkan proyek ini telah menghasilkan kapal tempur yang ditujukan untuk kepentingan daerah Banjarmasin yang menurut catatan Insinyur Kepala pada proyek pembuatan kapal itu, dibuat selama 8 bulan di galangan kapal Browne en Co di Dasun, dimatangkan lagi selama lima bulan di Surabaya. Beberapa bukti pelayaran menurut laporan ini, semua sesuai dengan harapan.
Di samping masalah kesulitan mendapatkan kayu jati, bertambahnya kapal uap di Hindia Belanda juga berpengaruh terhadap perkembangan galangan kapal di Rembang ini. Pada tahun 1880 kemerosotan ini sangat dirasakan. Akibat situasi ini galangan kapal Rembang pada tahun 1883 hanya memberikan sedikit kemajuan sehingga suatu tinjauan tentang aktivitasnya tidak banyak diberikan. Pada tahun 1885 galangan ini tidak banyak mengalami perkembangan, dan pada tahun 1889 pembuatan kapal besar tidak ditekuni lagi karena kekurangan modal kerja dan pekerjaan.
Selanjutnya, tentang perkembangan produksi serta perbaikan kapal di galangan kapal desa Dasun ini dari tahun ke tahun cukup bervariasi. Pada tahun 1832 galangan kapal ini membuat semua jenis perahu untuk pesanan orang-orang Eropa dan perahu angkut barang. Pada tahun itu dilaporkan telah dibuat empat buah kapal. Empat buah kapal pemerintah telah diselesaikan lagi pada tahun 1834 sementara pembuatan kapal bagi kepentingan swasta, meskipun terus berjalan tetapi semakin sulit karena mahalnya harga kayu jati yang terjadi pada tahun 1829. Akan tetapi para pemborong masih banyak memiliki persediaan yang cukup besar dari kayu sebelumnya, sehingga mereka masih bisa membuat perahu. Beberapa perahu dan kapal “Maria Freberica” dibuat. Di samping itu, empat kapal sipil pemerintah telah dibuat dan diselesaikan pada bulan November 1835. Kapal tersebut kemudian dikirim ke Surabaya. Kemudian pada tahun 1936 diselesaikan tujuh perahu yang terdiri dari lima buah kapal layar, sebuah kapal cepat, dan satu “kotler”. Selanjutnya pada tahun 1839 berhasil diselesaikan dua buah kapal layar “tiang dua” dan sebuah kapal layar cepat. Sementara pada tahun 1840, telah dibuat satu kapal uap, tiga kapal layar “tiang tiga”, tiga kapal layar cepat, tiga perahu angkut, satu perahu pancalang. Pada tahun 1852 telah diselesaikan enam kapal pesanan pemerintah yang difungsikan sebagai kapal pengawas. Empat tahun setelah itu, telah dihasilkan delapan kapal pengawas, dua kapal “sloep”, dua kapal angkut, dua “loods boot”. Pada tahun 1857 telah diselesaikan pembuatan dua kapal tempur yang dilapisi dengan tembaga dan sebuah kapal layar cepat atas biaya swasta. Kecuali itu berbagai perahu mengalami banyak perbaikan di galangan Dasun ini. Kemudian pada tahun 1858, di samping mengadakan perbaikan dan pembaharuan geladak dorong untuk pangkalan militer di Ourust, telah diselesaikan pula tiga kapal pengawas, tujuh kapal dayung, lima kapal angkut, sebuah kapal cepat dan dua perahu mayang. Selanjutnya pada tahun 1865 telah dihasilkan enam buah kapal cepat. Kemerosotan terjadi sejak tahun 1870, karena terjadinya penutupan hutan jati di beberapa distrik, sehingga harga kayu jati mengalami peningkatan tajam. Pada tahun 1880 diperoleh informasi bahwa galangan kapal Dasun hanya memproduksi sabuah perahu dan dua kapal sungai, suatu produk yang tidak berarti bagi pabrik kapal yang relatif besar dan tersohor itu. Tampaknya pada tahun 1886 galangan kapal ini tidak memperoleh pekerjaan pembuatan kapal baik dari pemerintah maupun swasta, sehingga hanya membuat dan memperbaiki perahu-perahu kecil saja. Untuk lebih jelasnya, produksi kapal dari galangan kapal di Dasun ini dapat dilihat pada tanel berikut:
Perkembangan Produksi kapal dan Galangan Kapal di Dasun Rembang pada tahun 1832 – 1880
Tahun     Jumlah Kapal       
1832               4                
1834               4                
1835               5                
1836               7                
1839               4                
1840              11                
1852               6                
1856              14                
1857               3                
1858              18                
1865               6                
1880               3                

Sumber : Diolah dari AVRR  dan K.V. dari berbagai tahun.



Rabu, 31 Oktober 2012

Sekolah Terbesar di Dunia Berikan Siswa India Pelajaran Hidup

Hari pertama di kelas untuk setiap murid baru bisa menjadi pengalaman yang luar biasa. Coba bayangkan rasanya belajar sebagai salah satu dari 40.000 murid yang masuk di sekolah terbesar di dunia.


Penghargaan Guinness World Records terbaru dianugerahkan kepada City Montessori School di kota Lucknow, India dengan 39.437 siswa yang terdaftar pada tahun akademik 2010-2011.

Pihak sekolah mengatakan, jumlah pendaftaran telah meningkat di atas 45.000. Sekolah itu memiliki 2.500 guru, 3.700 komputer, 1.000 ruang kelas dan salah satu dari sebelas tim kriket yang paling tangguh.

City Montessori School dibuka oleh Jagdish Gandhi dan istrinya Bharti pada 1959 dengan pinjaman 300 rupee (setara Rp58.000 pada saat ini) dan hanya memiliki lima orang siswa.

Kini sekolah tersebut telah berkembang hingga lebih dari 20 lokasi di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, dan terkenal dengan hasil ujian dan program pertukaran internasional.

"Pertumbuhan fenomenal sekolah kami adalah refleksi dari upaya kami untuk menyenangkan orangtua melalui layanan terhadap anak-anak mereka," kata Gandhi, 75 tahun, yang masih menjabat dalam manajemen sekolah.

"Siswa kami memiliki hasil akademis yang luar biasa setiap tahun dan mendapatkan perhatian global yang luar biasa. Mendapatkan rekor Guinness sangat membesarkan hati kami, tapi ini bukan segalanya," katanya kepada AFP.

Para murid, yang berusia antara 3-17 tahun, semuanya berseragam dan masing-masing kelas menampung sekitar 45 murid, namun seluruh siswa di sekolah tidak pernah dikumpulkan secara bersama karena tidak ada tempat yang cukup besar untuk menampung mereka.

CMS, yang tidak menerima dana dari pemerintah, membebani  biaya 1.000 rupee (sekitar Rp180 ribu) per bulan untuk biaya murid yang lebih muda,  dan 2.500 rupee (sekitar Rp450 ribu) per bulan untuk senior.

"Dalam sekolah yang besar seperti itu, ada banyak keuntungan, salah satunya adalah Anda bisa berkenalan dengan banyak teman di seluruh lokasi sekolah yang kami miliki," kata Ritika Ghosh (14), yang telah bersekolah di CMS selama dua tahun kepada AFP.

"Tapi karena sekolah begitu besar, maka dibutuhkan banyak upaya untuk bisa mendapatkan perhatian. Jadi Anda hanya merupakan salah satu dari ribuan siswa yang belajar.

"Pasti Ada lebih banyak tantangan dan kompetisi, yang pada akhirnya mempersiapkan kita untuk kehidupan nyata."

Seorang siswa bernama Tanmay Tiwari (16) mengatakan bahwa ukuran sekolahnya yang besar membuatnya lebih  percaya diri.

"Aku dulu sangat pemalu tapi sekolah telah memberi saya kepercayaan diri," katanya kepada AFP. "Sekarang saya masuk dalam tim perguruan tinggi dan ikut berdebat dalam kompetisi nasional."

Ukuran sekolah dibandingkan hanya dengan ambisi idealisnya, para siswa diajarkan tentang filosofi perdamaian universal dan globalisme di bawah moto "Jai Jagat" (Kemenangan untuk Dunia).

Dengan para siswa yang berada di bawah tekanan sengit untuk mendapatkan hasil ujian yang baik, olahraga tidak selalu menjadi prioritas utama, namun pelatih kriket Raju Singh Chauhan mengatakan bahwa ia menganggap pemilihan tim masih rumit.

"Untuk mendapatkan murid berbakat olahraga di antara 45.000 lebih siswa akan menjadi masalah besar," katanya.

"Untuk alasan ini kami mengadakan kompetisi antarcabang untuk menggali bakat anak-anak yang terbaik dan akhirnya kami mendapatkan gambaran yang lebih besar dan sebelas orang dari kami yang terbaik untuk masuk dalam tim."

CMS pertama kali memegang gelar sebagai sekolah terbesar di dunia pada 2005, ketika memiliki 29.212 siswa, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Rizal High School di Manila, Filipina, yang memiliki 19.738 siswa.

Para alumni sekolah tersebut meliputi Ushhan Gundevia, seorang bankir eksekutif di Goldman Sachs, dan Prakash Gupta, seorang diplomat senior PBB di New York, serta sarjana Harvard dan beberapa ahli bedah terkemuka serta ilmuwan.

"Sekolah merupakan inspirasi tidak hanya bagi siswa, tetapi juga untuk siapa saja, di mana saja yang ingin membuat perbedaan positif," kata Craig Glenday, editor Guinness World Records, kepada AFP dari London.

"Sekolah mengerti betul bahwa mengajar adalah profesi yang paling suci, dan dari asal-usul sederhana tersebut hingga menjadi yang terbesar, serta  salah satu lembaga pendidikan yang paling dihormati di dunia, itu adalah cerita yang benar-benar menginspirasi dan menakjubkan."

(Sumber: Oleh Yahoo! News | AFP , Sagarika Dubey | AFP)

568 Orang Meninggal Akibat HIV/AIDS di Jateng

Jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang meninggal di Jawa Tengah sudah mencapai 568 orang atau 10,91 persen dari data penderita 5.206 orang. Jumlah itu menempatkan provinsi ini di urutan ke enam terbanyak di Indonesia.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Magelang, Drs H Asfuri Muhsis MSi, menyebutkan, yang terinfeksi HIV (Human immunodeficiency virus) 2.646 orang. “Yang menderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) 1.992 orang,” katanya, Senin (18/6), dalam sosialisasi warga peduli AIDS (WPA).
Menurut dia, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Magelang, sampai April 2012, terdapat 24 kasus. Rinciannya, 15 positif terinfeksi HIV, Sembilan kasus AIDS dan meninggal sembilan orang (37,5 persen). Menurut dia, dari berbagai peristiwa  penularan HIV/AIDS berkaitan dengan perilaku yang menyimpang.
Karena itu program kegiatan KPA Kabupaten Magelang lebih diarahkan pada upaya pencegahannya. (Tuhu Prihantoro / CN26 / JBSM)
(Sumber: suaramerdeka.com, 18 Juni 2012)

Penderita HIV/AIDS di Rembang Bertambah

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang menemukan enam penderita HIV/AIDS baru di wilayah kabupaten itu. Kepala Dinkes Rembang, Sutedjo menyebutkan, enam penderita baru itu masing-masing dua laki-laki, empat lainnya berjenis kelamin perempuan.
Dengan penambahan itu, total penderita penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia sejak tahun 2004 mencapai 103 penderita. Dari jumlah itu, sebanyak 56 penderita di antaranya berjenis kelamin laki-laki, sisanya sebanyak 47 penderita adalah perempuan.
Dinkes mencatat, sebanyak 65 penderita diketahui telah meninggal. "Sejak pendataan terakhir pada akhir 2011 hingga Februari 2012, diketahui sebanyak 19 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Rembang telah meninggal," jelasnya, Senin (5/3).
Terus bertambahnya penderita HIV/AIDS di Kabupaten Rembang cukup memprihatinkan. Apalagi sebagian menyerang ibu rumah tangga dan anak-anak. Di luar jumlah itu, diperkirakan penderita HIV/AIDS bisa terus bertambah.
"Penderita biasanya tidak menyadari penyakitnya. Jika pun telah tahu, biasanya cenderung menutup diri dan malu memeriksakan kondisi kesehatannya," terangnya.
Agar penderita HIV/AIDS tak semakin dikucilkan, Sutedjo menyebutkan, Dinkes telah mengedarkan surat imbauan kepada seluruh camat di Kabupaten Rembang agar menyosialisasikan upaya pengendalian HIV/AIDS di wilayahnya.
Pihaknya pun terus menyosialisasikan rumus ABCDE untuk menekan kemungkinan bertambahnya jumlah penderita. Sutedjo menjelaskan, penularan penyakit ini bisa dicegah dengan rumus A yakni abstain, atau tidak melakukan hubungan seks bebas, kemudian B atau be faithful yakni setia pada pasangan.
Rumus C yakni cegah dengan menggunakan kondom. Sementara D yakni dihindari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. "Yang terakhir yakni E, yakni edukasi dengan mengajarkan dan mengajak warga masyarakat untuk hidup sehat dan tidak melanggar normal agama," jelasnya. (Saiful Annas / CN31 / JBSM)
(Sumber: suaramerdeka.com, 05 Maret 2012)

Astronom Temukan Planet dengan Empat Matahari


Sebuah tim astronom amatir dan profesional internasional menemukan sebuah planet yang langitnya diterangi oleh empat matahari - kasus pertama yang diketahui dari fenomena semacam itu.
Planet yang terletak sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi itu dijuluki PH1 untuk menghormati Planet Hunters, sebuah program yang dipimpin oleh Yale University di Amerika Serikat, yang menggabungkan para relawan untuk mencari tanda-tanda planet baru.
PH1 mengorbitkan dua matahari dan sebaliknya diorbitkan oleh sepasang bintang yang jauh jaraknya. Hanya enam planet yang diketahui mengorbitkan dua bintang, kata beberapa peneliti, dan tidak ada satupun dari bintang-bintang itu diorbitkan oleh bintang-bintang jauh lainnya.
“Planet yang mengelililngi dua bintang adalah formasi planet yang ekstrem,” kata Meg Schwamb dari Yale, penulis utama sebuah makalah yang dipresentasikan pada Senin dalam pertemuan tahunan Division for Planetary Sciences of the American Astronomical Society (DPSAAS) di Nevada.
“Penemuan atas sistem ini memaksa kita untuk kembali menggambarkan pemahaman bagaiamana planet itu dapat terbentuk dan berkembang dalam lingkungan yang penuh dengan tantangan dan dinamis tersebut.”
Ilmuwan asal Amerika dan partisipan Planet Hunters, Kian Jek dan Robert Gagliano adalah yang pertama kalinya mengidentifikasi PH1. Pengamatan mereka kemudian dikonfirmasi oleh sebuah tim peneliti Amerika dan Inggris yang bekerja di Hawaii.
PH1 adalah sebuah raksasa gas dengan radius sekitar 6,2 kali Bumi, membuatnya sedikit lebih besar daripada Neptunus. Planet tersebut mengorbitkan sepasang bintang yang massanya 1,5 dan 0,41 kali dari Matahari kira-kira setiap 138 hari sekali.
Dua bintang lainnya mengorbitkan sistem planet pada jarak kira-kira 1.000 kali jarak antara Bumi dan Matahari.
Situs Planethunters.org yang diciptakan pada 2010 ditujukan untuk mendorong para astronom amatir untuk mengidentifikasi planet-planet di luar sistem tata surya kita, menggunakan data dari teleskop ruang angkasa Kepler badan antariksa Amerika, NASA.
Kepler, yang diluncurkan pada Maret 2009, merupakan misi pertama NASA dalam pencarian planet-planet seperti Bumi yang mengorbitkan bintang yang mirip dengan Matahari kita.
Penemuan PH1 dipublikasikan secara online pada Senin di situs arxiv.org dan diserahkan kepada Astrophysical Journal untuk publikasinya.
Pekan lalu, para ilmuwan melaporkan penemuan “planet berlian” yang ukurannya dua kali ukuran bumi dan mengorbitkan sebuah bintang mirip Matahari.
Sampai dengan sepertiga massa planet dan sebagian besar permukaannya diyakini terdiri dari berlian, menyiratkan bahwa planet berbatu yang jauh tersebut tidak dapat lagi diasumsikan memiliki fitur yang sama seperti Bumi. (kn/ik)
(Sumber: Nevada (AFP/ANTARA)

Sabtu, 29 September 2012

OBYEK WISATA UTAMA DI LASEM (3) KOMPLEKS MAKAM RADEN PANJI MARGONO

Makam Raden Panji (R.P.) Margono terletak di desa Dorokandang, Kecamatan Lasem. Di kompleks pemakaman ini dimakamkan pula seorang tokoh yang bernama Ki Moersodo dan istrinya yang menurut cerita merupakan pengawal R.P.Margono. Menurut cerita dalam kitab Sabda Badra Santi R.P.Margono adalah seorang putra tertua dari Adipati Lasem Pangeran Tejokusumo V. Sebagaimana ayahnya ia memiliki sikap tidak senang kepada Sunan Pakubuwono I yang berpihak kepada Kompeni Belanda. Oleh karena itu ketika ayahnya wafat ia tidak mau menjadi adipati Lasem. Ia tidak senang menjadi pejabat tetapi lebih memilih sebagai orang kebanyakan yaitu sebagai petani dan berdagang dengan orang-orang Cina di Lasem dan sekitarnya.
Dengan sikap dasar seperti inilah ketika terjadi pengungsian besar-besaran orang-orang Cina dari Belanda ke Lasem pada tahun 1741 ia membantu pimpinan orang Cina di Lasem yang bernama Tumenggung Widyaningrat (Oei Ing Kiat) untuk membantu para pengungsi Cina dari Batavia. Dengan tokoh Cina inilah R.P.Margono mengorganisir rencana untuk melakukan perlawanan terhadap Kompeni bersama orang-orang Cina di Lasem. Rencana perlawanan ini juga dibantu seorang juragan Cina yang kaya yaitu Tan Ki Wie. Bahkan R.P.Margono ini dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni dengan menyamar sebagai orang Cina dengan nama Tan Pan Ciang. Akhirnya dengan kerjasama yang baik antara laskar Cina dengan orang-orang pribumi, mereka bisa menghancurkan tangsi Kompeni di Rembang pada tanggal 21 Juli 1741. Namun demikian setelah mendapatkan bantuan tentara dan persenjataan lengkap dari Semarang akhirnya perlawanan ini dapat dikalahkan oleh Belanda.

OBYEK WISATA UTAMA DI LASEM (2) KOMPLEKS MAKAM NYAI AGENG MALOKO


Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Nyai Ageng Maloko merupakan anak pertama dari Sunan Ampel. Nama aslinya adalah Siti Syari’ah. Ia memiliki taga adik yaitu Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Nyai Ageng Manila (istri Sunan Kalijaga). Tidak berbeda dengan saudara-saudara laki-lakinya, Nyai Ageng Maloko sebagai keturunan ulama besar Islam juga merupakan seorang mubalighot Islam yang terkenal. Ia memiliki semangat juang yang tinggi untuk menyebarkan Islam terutama di kalangan perempuan. Mula-mula ia ikut menyebarkan Islan di daerah Ampel Denta (Gresik) bersama orang tuanya. Oleh orang tuanya ia dikawinkan dengan salah satu muridnya yang bernama Wiranagara yang merupakan anak Adipati Lasem yang bernama Wirabajra. Pada waktu Adipati Wiranegara (Hindhu-Budha) melamar Siti Syari’ah ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh Adipati, yaitu :
1. Pangeran. Wiranegara harus bisa membaca syahadad (msuk Islam)
2. Dia (sang Putri) harus tetap diijinkan mengajar ngaji bagi kaumnya
3. Dibuatkan tempat khusus untuk mengajar (mengaji dan membuat kain tenun bagi kaumnya) di tepi pantai.
Atas persyaratan itu, maka didirikanlah sebuah tempat pendidikan Islam bagi kaum perempuan di wilayah desa yang diberi nama gedung Mulyo di dukuh Caruban. Setelah menjadi istri Adipati Wiranegara namanya diubah menjadi Siti Malochah (dialek jawa menjadi Maloko). Masyarakat sekitar menyebut Nyai Ageng Maloko.
Ketika Adipati Wirabjra meninggal, maka Wiranegara segera pulang ke Lasem untuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai adipati di Lasem. Pada saat pemerintahannya, pusat kadipaten dipindahkan ke Binangun. Ia menjabat pemerintahan Lasem selama 5 tahun. Ia meninggal tahun 1479. Oleh karena putranya masih sangat kecil (yaitu seorang putri yang bernama  Sholikhah sedangkan anak yang ke-dua meninggal dunia), maka pemerintahan Lasem dipegang oleh Nyai Ageng Maloko sendiri yang pda waktu itu usianya masih 28 tahun.
Pada tahun 1480 ibukota kadipaten dipindahkan lagi ke Lasem oleh Nyai Ageng Maloko. Pusat pemerintahannya berada di kawasan Caruban dekat dengan kediaman Pangran Santi Puspo yang menduduki jabatan semacam laksamana yang waktu itu dipercaya dikasihi oleh Dewi Laut. Pangeran Santi Puspo juga masih memiliki hubungan kerabat dengan suami Nyai Ageng Maloko sehingga mereka memiliki hubungan yang akrab. Sementara itu setelah putri Solikhah dewasa ia diperistri oleh Arya Jin Bun yang kemudian menjadi Sultan Demak. Selama pemerintahannya Nyai Ageng Maloko membangun sebuah gedung dan taman yang diceritakan dekat dengan tempat pemujaan Sang Hyang Baruna (Dewa Laut) yang diberi nama Taman Sitaresmi yang untuk masa selanjutnya juga disebut Taman Caruban. Nyai Ageng Maloko meninggal pada usia 39 yahun. Setelah itu kedudukan adipati digantikan oleh Pangeran Santi Puspo dan didampingi oleh adiknya yang bernama Santiyogo. Menurut cerita juru kunci makam Nyai Ageng Maloko, Pangeran Santiyogo inilah yang disebut sebagai Sayid Abubakar atau Sunan Kajoran yang menggantikan kedudukan Nyai Ageng Maloko sebagai Adipati Lasem. Setelah meninggal, Nyai Ageng Maloko dimakamkan di Caruban (yang termasuk dalam wilayah desa Gedungmulyo, Kecamatan Lasem). Makam Nyai Ageng Maloko berada dalam sebuah cungkup yang terdapat pada bagian yang paling utara dari kompleks pekuburan. Bangunan cungkup dibuat dengan menggunakan batu bata merah. Namun demikian saat ini tembok batu bata tersebut sudah dilepa dengan semen. Cungkup ini dibangun lebih tinggi daripada makam-makam disekitarnya. Di dalam cungkup ini hanya terdapat satu makam yaitu makam Nyai Ageng Maloko. Jirat dan nisan makam ini tampaknya bukan aslinya tetapi sudah diperbarui.
Menurut penuturan juru kunci Nyai Ageng Maloko, di daerah Lasem (dusun Caruban) inilah dia membuka pesantren putri yang tidak hanya diperintukkan bagi masyarakat Lasem tetapi juga santriwati yang berasal dari luar daerah seperti putri Sunan Muria (Komariah), putri Sunan Kudus (Sundariah), dan bahkan ada santriwati dari Minangkabau. Seperti diketahui bahwa Sultan Mahmud dari Minangkabau adalah murid dari Sunan Bonang. Ketika ia pulang ke Minangkabau ia mengajak wanita-wanita Minangkabau untuk belajar di pesantren Maloko, sehingga pesantren ini bertambah ramai.
Di luar cungkup ini terdapat banyak makam dengan nisan kuno yang sesuai dengan nisan yang terdapat di makam Sayid Abubakar. Selain itu juga bisa ditemukan berbagai macam peninggalan pra Islam seperti beberapa buah lingga dan benda-benda purbakala lainnya. Kompleks makam Nyai geng Maloko ini juga dikelilingi oleh pagar yang aslinya berupa batu bata merah kuno meskipun sayang sekali sekarang sudah dipugar dan dilepo dengan semen sehingga tidak menampakkan keasliannya. Di luar pagar kompleks makam Nyai Ageng Maloko terdapat pekuburan umum yang mungkin sesuai dengan nisan-nisan yang ada di dalam tembok keliling.

Sabtu, 22 September 2012

OBYEK WISATA UTAMA DI LASEM (1) MAKAM SAYID ABU BAKAR (SANTI PUSPO)

Di kalangan masyarakat setempat Sayid Abu Bakar dikenal juga sebagai Mbah Santi Puspo atau Mbah Imam. Ia dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai salah satu penyebar Islam yang yang tertua di daerah Lasem dan sekitarnya. Di daerah itu, Sayid AbuBajar menyebarkan agama Islam bersama dengan murid-muridnya. Ia Mendirikan pesantren di kawasaan dususn Caruban yang dikelililingi oleh perkanpungan penduduk. Dusun ini letaknya tidak jauh dari pantai, yaitu sekitar 200 meter saja. Berdasarkan penelituian archeologi situs Caruban merupakan salah satu situs tertua sebagai perkampungan pada masa awal kota lasem.
Setelah meninggal, Sayid Abubakar dimakamkan didusun Caruban, desa Gedongmulyo, kecamatan Lasem bersama dengan para santrinya. Bahkan pada saat ini kompleks makam itu juga digunakan oleh penduduk sebagai tempat pemakaman umum. Makam Sayid Abubakar berada di dalam bangunan cungkup sederhana yang aslinya terbuat dari bata merah yang kemungkinan berasal dari sekitar abad XV. Sementara itu serambi cungkup tampaknya merupakan bangunan baru yang berfungsi untuk ruang tunggu para peziarah. Jirat makam ini masih relatif baru karena sudah berbahan semen. Menurut keterangan yang ada memang aslinya makam ini tidak berjirat. Adapun nisan makam ini masih sli yaitu nisan yang berbentuk kurawal berhiaskan motif sulur-sulur dan berbahan batu karang. Di sebelah timur batu cungkup terdapat batu bata yang berserakan dan bekas pondasi persegi panjang keliling. Kemungkinan sisa-sisa pondasi dan batu bata tersebut merupakan tembok keliling makam yang sudah lapuk dimakan usia. Namun demikian ada yang mengatakan bahwa serakan batu bata dan fondasi tersebut merupakan bekas candi pra-Islam yang sudah rusak. Belum jelas apakah bekas candi itu candi itu kemudian difungsikan sebagai mushola bagi orang islam atau dibiarkan begitu saja. Aneh sekali bahwa tanah yang berada di dalam di sebelah timur makam Sayid Abubakar ini lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan letak makam itu sendiri. Sebelum mencapai pintu masuk cungkup makam ini terdapat sumur tua yang diyakini sebagai sumur peninggalan Sayid Abubakar.

Rabu, 05 September 2012

OBYEK WISTA UTAMA REMBANG (6) KOMPLEKS TAMAN REKREASI PANTAI KARTINI



Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) sebetulnya sudah dikenal masyarakat Rembang dan sekitarnya sejak jaman penjajahan Belanda. Pada jaman Kolonial Belanda, di samping digunakan sebagai tempat rekreasi, TRPK juga digunakan untuk kepentingan lain yaitu untuk melakukan pengawasan terhadap lalu lintas laut di sekitar Rembang. Satu hal yang menarik adalah bahwa di dalam kompleks TRPK ini terdapat bekas bangunan kuno yang dapat dibayangkan kemegahannya pada jaman dulu. Bangunan ini berarsitektur Eropa yang kemungkinannya dulu pernah digunakan oleh orang-orang Belanda untuk melakukan pertemuan dan pesta (semacam gedung societiet)
Menurut informasi, di atap bangunan ini pernah ditemukan tulisan angka tahun pembuatan gedung ini yaitu tahun 1811. Kalau hal ini benar, maka gedung ini kemungkinan dibuat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal H.W.Daendels (1808-1811) yang terkenal sebagai pemrakarsa pembangunan Jalan Post antara Anyer dan Panarukan. Rembang merupakan salah satu kota yang dilewati Jalan Pos ini. Sejak tahun 1945, gedung ini dimanfaatkan sebagai gereja oleh Jemaat Umat Kristen Protestan. Oleh karena jumlah anggota jemaat yang semakin berkurang maka bangunan tua tersebut diubah fungsinya sebagai Taman Bacaan dan Perpustakaan Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang. Setelah beberapa lama bangunan tersebut dibeli oleh Jemaat Kristen Jawa (dengan koordinasi dengan Gereja Indonesia Bagian Barat) sejak tahun 1996, maka kondisi bangunan semakin memburuk. Pada akhir tahun 2001 atap bangunan tersebut roboh. Pada saat ini tinggal tiang-tiang penyangga dan temboknya saja yang masih tersisa.
Upaya-upaya untuk menyelamatkan gedung antik yang merupakan peninggalan sejarah tersebut sudah sering dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang. Setelah melakukan negoisasi yang panjang, akhirnya pengelolaan bangunan tua tersebut diserahkan kepada pemerintah Kabupaten Rembang. Pada saat ini Pemerintah Kabupaten Rembang sedang merencanakan untuk melakukan renovasi terhadap bangunan tersebut, untuk selanjutnya akan digunakan sebagai gedung pertemuan dan pusat promosi dan pengembangan wisata Kabupaten Rembang.
Secara keseluruhan, Taman Kartini telah mengalami renovasi beberapa kali sejak tahun 1979. Pada tahun ini dibangun sarana bermain anak-anak. Selanjutnya pada tahun 1992 diadakan penataan lagi dengan menambah fasilitas seperti shelter, gardu pandang, pembangunan talud pantai, dan sebagainya sehingga menambah daya tarik taman rekreasi ini. Sejak saat itu nama Taman Kartini diganti dengan nama Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPKartini).
Di dalam TRP Kartini terdapat jangkar raksasa yang oleh masyarakat dikenal dengan nama jangkar Dampo Awang. Jangkar ini dipercaya milik pelaut Tionghoa yang bernama Sam Pho Khong. Diceritakan bahwa pada waktu Sam Pho Khong sedang berlayar di Laut Jawa dalam rangka ekspedisi ke selatan, kapal Sam Pho Khong diterjang gelombang besar sehingga kapalnya rusak, rantai jangkar terlepas dan terdampar di Rembang dan layarnya tertiup angin topan yang akhirnya jatuh di pantai Bonang sekarang ini dikenal sebagai batu layar.
Untuk kepentingan pengmbangan wisata di TRPKartini, pada hari kamis pon tanggal 16 Oktober 2003, jangkar dengan panjang 2,5 m dan lebar 1,5 m ini dipindah dari tempatnya semula daratan di tengah-tengah TRP Kartini yaitu sekitar 50 km dari garis pantai ke dalam monumen megah yang dilengkapi dengan pelindung kaca dan lampu yang dibangun diatas perairan tepi pantai, tepatbya 20 m dari garis pantai. Oleh masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang, jangkar Dampo Awang ini tidak hanya dijadikan sebagai benda bersejarah, namun juga dijadikan sebagai simbol semangat bahari kota Rembang guna mewujudkan misi “Rembang Bahari”
Mengenai hal ihwal pemindahan jangkar Dampo Awang ini terdapat cerita-cerita yang menarik. Diceritakan bahwa pada tahun 1950-an, jangkar ini pernah “mengamuk” ketika akan dipindah keluar Rembang yaitu ke Semarang. Tiba-tiba muncul badai besar di Rembang selama satu minggu lebih. Behkan benda yang semula terletak di belakang Lembaga Pemasyarakatan ini tidak bergerak ketika diangkat oleh sekitar 100 orang. Ketika dipindah dari belakang Lembaga Pemasyarakatan ke TRP Kartini, Jangkar Dampo Awang diangkat oleh 150 orang. Namun demikian proses pemindahan ke lepas pantai tanggal 16 Oktober 2003 hanya membutuhkan 16 orang meskipun membutuhkan waktu yang lama yaitu sekitar 5 jam. Relatif mudahnya pemindahan Jangkar Dampo Awang pada tanggal 16 Oktober 2003 ini menurut paranormal setempat disebabkan oleh kerelaan “penunggu” jangkar yang untuk sementara mau pindah dulu dari “rumahnya” untuk kemudian kembali lagi setelah pemindahan selesai. Para paranormal berhasil melakukan pendekatan terhadap “penunggu” Jangkar Dampo Awang.

Jumat, 31 Agustus 2012

OBYEK WISATA UTAMA DI REMBANG (5) MAKAM R.A. KARTINI

Setelah wafat pada tanggal 17 September 1904, jenazah R.A.Kartini dimakamkan di pemakaman keluarga bupati Rembang R.M.A.A.Djojodiningrat. Makam ini terletak di desa Bulu, Kecamatan Bulu (Mantingan), Kabupaten Rembang. Pemakaman ini terletak sekitar 17,5 km dari kota Rembang ke arah kota Blora. Luas seluruh areal pemakaman ini adalah sekitar 10 ha. Di pemakaman ini pula dimakamkan suami R.A.Kartini R.M.A.A.Djojodiningrat dan putera beliau satu-satunya R.M. Susalit.

OBYEK WISATA UTAMA DI REMBANG (4) MUSEUM R.A. KARTINI


R.A.Kartini merupakan salah satu tokoh nasional kebanggaan masyarakat Rembang. Oleh karena di kota Rembang inilah dia memanfaatkan masa-masa akhir hayatnya untuk melanjutkan pemikiran-pemikiran segarnya mengenai kemajuan wanita Indonesia. Oleh bengsa Indonesia, ia diakui sebagai pahlawan emansipasi wanita. Untuk itulaj museum Kartini didirikan di Rembang, khususnya di kompleks Pendopo Kabupaten Rembang yang menyatu dengan rumah dinas Bupati Rembang di jalan Gatot Subroto No. 8 Rembang. Museum Kartini menempati ruangan yang dulu pernah digunakan oleh Kartini dalam aktivitas menuliskan ide-ide dan buah pikirannya mengenai kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya dan wanita pada khususnya. Tempat ini sekaligus juga merupakan tempat beliau melahirkan putra satu-satunya yaitu Raden Mas Susalit dan sebagai kamar pribadi hingga beliau wafat. Benda-benda yang menjadi koleksi museum beraneka ragam khususnya benda-benda yang pernah digunakan oleh R.A.Kartini semasa hidupnya.
R.A.Kartini lahir di Mayong, Jepara pada tanggal 21 April 1879 dari pasangan suami istri yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Ngasirah yang pada saat itu menjabat sebagai Asisten Wedono Mayong dan tiga tahun setelah kelahiran R.A.Kartini menjabat sebagai Bupati Jepara. Ngasirah, ibu kandung R.A.Kartini adalah anak seorang kyai yang berasal dari Teluk Awur Jepara. Dalam usia tiga tahun yaitu tahun 1881, R.A.Kartini diboyong ke Jepara ketika sang ayahandanya diangkat sebagai Bupati Jepara. Ayah R.A Kartini sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan Kartini.Meskipun pendidikan formal bagi kaum wanita belum merupakan sesuatu yang lazim dalam masyarakat Indonesia pada waktu itu. Ayahanda R.A.Kartini sudah memberikan pendidikan formal. Meskipun R.A.Kartini mempunyai hak untuk sekolah di sekolah Eropa, namun sang ayah menyekolahkan Kartini di sekolah bersama teman-temannya. Sejak usia sekolah Kartini sudah menunjukkan ketekunan dan bakatnya dalam membaca dan menulis. Ia membaca buku-buku tokoh-tokoh progresif seperti Multatuli, sehingga mengetahui seluk-beluk penindasan penjajahan Belanda. Hal ini memberikan kesadaran kepada Kartini untuk menentang penjajahan Belanda.
Dengan bacaan-bacaannya dan korespondensinya dengan sahabat-sahabat orang Belanda, proses pendewasaan Kartini menjadi semakin matang, yang pada akhirnya mengantarkan jiwa Kartini yang penuh kebebasan dalam berpikir dan demokratis serta berorientasi maa depan dalam bertindak. Oleh karena itu dalam surat-suratnya yang dikirimkan kepada para sahabatnya di Belanda, ia mengetik adat istiadat yang ia pandang sebagai penghambat kemajuan wanita seperti budaya memingit wanita. Ia menganjurkan agar wanita diberi kebebasan untuk menuntut ilmu dan bebas belajar. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah di negeri Belanda diurungkan dan memohon kepada Pemerintah Kolonial Belanda agar beasiswanya diberikan kepada pemuda Indonesia yang lain. Ia lebih senang melanjutkan sekolah guru.
Sadar bahwa cita-cita perjuangan untuk meningkatkan derajat wanita lewat pendidikan tidak dapat dijalankan sendiri, maka ia menerima lamaran Bupati Rembang Raden Mas Adipati Djojodiningrat, seorang duda yang memiliki beberapa orang anak. Bupati Rembang sangat mendukung gagasan dan aktivitas untuk memajukan pendidikan kaum wanita dan untuk memperjuangkan kaum wanita agar sederajat dengan kaum pria. Perkawinan Kartini berlangsung pada tanggal 8 November 1903. Empat hari setelah perkawinan, Kartini meninggalkan Jepara pindah ke kota Rembang.
Untuk merealisir cita-citanya, langkah awal yang diambil oleh Kartini adalah mendirikan sekolah wanita yang ditempatkan di rumahnya yaitu didebelah timur gapura     Kabupaten Rembang (sekarang digunakan sebagai Kantor Wakil Bupati Rembang). Sekolah yang didirikan oleh Kartini memiliki banyak murid. Murid-murid dari kalangan keluarga yang tidak mampu, tidak dipungut biaya. Oleh karena mengalami kemajuan pesat, sehingga diperlukan guru bantu agar semua murid bisa ditangani dengan baik. Kartini juga mengajukan subsidi kepada Pemerintah Kolonial Belanda untuk memajukan sekolahnya. Semuanya dilakukan secara tulus berdasarkan jiwa sosial dan pengabdiannya.
Dalam kehidupan sebagai ibu rumah tangga, beliau juga merasa sangat bahagia. Telah banyak yang dilakukan Kartini untuk kepentingan keluarga dan masyarakatnya. Namun demikian sayang sekali, ia tidak bisa mengabdikan diri lebih lama apalagi menikmati hasil perjuangannya. Ia wafat dalam usia yang masih sangat muda sebagai seorang pembaharu, yaitu 25 tahun. Ia wafat tanggal 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra satu-satunya, yaitu Raden Mas Susalit. Beliau meninggalkan semua yang dicintainya, yaitu keluarga dan bangsanya. Jenazahnya dimakamkan di makam keluarga Rembang yaitu di desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan wanita oleh Presiden Soekarno. Kamar pribadi R.A.Kartini dijadikan sebagai ruang museum R.A.Kartini dengan koleksi peninggalan beliau antara lain berupa : beberapa perabot rumah tangga yang dulu pernah digunakan oleh Katini, bak mandi, bothekan tempat jamu, sepasang rono, penyekat ruangan dari kayu jati berukir pemberian ayahandanya, meja makan, meja untuk merawat bayi, lukisan karya R.A.Kartini berupa tiga ekor angsa, naskah tulisan tangan R.A.Kartini dan lain-lain.

OBYEK WISATA UTAMA DI REMBANG (3) MASJID JAMI' REMBANG DAN KOMPLEKS MAKAM DI SEKITARNYA



Masjid Jami’ Rembang berada di sebelah barat alun-alun kota Rembang. Kompleks Masjid ini berada di dusun Kauman, desa Kutoharjo, kecamatan Rembang. Posisi Masjid dibangun diatas batur setinggi satu meter, sehingga lebih tinggi dari areal disekitarnya. Kompleks Masjid ini dikelilingi oleh tembok bata setinggi satu setengah meter. Sebagaimana biasanya masjid di Pantai Utara Jawa pada khususnya dan masjid lain di Indonesia pada umumnya, bangunan induk masjid berbentuksegi empat dengan lebar sisi sekitar 40 cm. Pada sisi barat ruangan bagian bangunan utama ini terdapat relung mihrab yang fungsinya sebagai tempat “pengimaman” atau tempat imam memimpin sholat. Sementara itu, di sebelah utara nihrab masih terdapat mimbar yang terbuat dari kayu jati yang diukir dengan motif tumpal, sulur-sulur, dan tumbuh-tumbuhan. Fungsi mimbar adalah sebagai tempat khotib (orang yang memberi khotbah pada sholat Jum’at). Di ambang mimbar ini terdapat inskripsi dengan menggunakan huruf Arab. Demikian juga inskrip dengan huruf Arab juga bisa didapatkan diatas pintu masuk ruang utama. Bangunan induk masjid ini ditopang oleh empat sokoguru yang terbuat dari kayu jati yang berbentuk segi empat. Sebagaimana masjid lain, Masjid Jami’ Rembang juga memiliki tambahan serambi.
Bila dilihat dari inskripsi yang ada, maka dapat dipastikan bahwa masjid Jami’ Rembang ini didirikan tahun 1814 M oleh Bupati Rembang yang bernama adipati Condrodiningrat. Meskipun masjid ini telah mengalami enam kali pemugaran, namun bentuk aslinya terjaga.
Sebagaimana prototipe masjid kuno di Indonesia, kawasan masjid juga selalu menjadi ko,pleks pemakaman. Di belakang masjid (sebelah barat) terdapat bangunan cungkup dengan model arsitektur Eropa yang cukup megah. Dengan ketinggian batur sekitar satu meter, bangunan cungkup ini berbentuk segi delapan yang berpusat pada lima buah makam yang ada didalamnya. Kompleks makam ini terkenal dengan sebutan makam Pangeran Sedo Laut, meskipun di dalamnya terdapat paling tidak lima buah makam. Secara berjajar dari barat ke timur makam-makam tersebut adalah :
(1).Makam Adipati Condrodiningrat dengan menggunakan jirat dari semen dan nisan berbentuk kurawal yang terbuat dari batu putih. Makam ini berangka tahun 1289 Hijriyah.
(2).Makam istri Adipati Condrodiningrat dengan jirat dan nisan yang hampir sama dengan makam suaminya. Nisan ini berangka tahun 1291 Hijriyah.
(3).Makam Raden Tumenggung Pratiktoningrat atau Kanjeng Pangeran Sedo Laut dengan jirat yang terbuat dari susunan bata dan nisan yang sudah terbuat dari semen. Pada nisan terdapat angka tahun 1757 menurut angka tahun Kawa atau 1831 Masehi.
(4).Makam istri Kanjeng Pangeran Sedo Laut dengan jirat dan nisan yang hampir sama dengan suaminya. Hanya saja pada makam ini tidak bisa ditemukan angka tahun.
(5).Makam istri Patih Pati, yaitu Raden Ayu Sasmoyo dengan jirat dan nisan yang hampir sama dengan makam ke-3 dan ke-4 dengan tanpa angka tahun.

Kamis, 16 Agustus 2012

OBYEK WISATA UTAMA DI REMBANG (2) PELABUHAN LAMA


Pelabuhan Lama Rembang terletak di Pantai kota Rembang atau tepatnya di muara sungai Karanggeneng. Di samping sebagai tempat pelabuhan, di muara sungai Karanggeneng juga terdapat tempat penimbunan kayu, sedangkan di muara sungai Lasem terdapat tempat pembuatan kapal (galangan kapal) yang sangat penting bagi perkembangan Pelabuhan Rembang itu sendiri.
Secara geografis, Pelabuhan Rembang terletak di lokasi yang tepat atau memenuhi syarat sebagai pelabuhan yang cukup aman. Dari segi geografis, suatu pelabuhan akan berfungsi apabila memenuhi syarat : 1) Mempunyai dasar laut yang cukup dalam; 2) Bebas dari pembekuan/es; 3) Gelombang laut yang tidak besar; 4) Daerah berlabuh cukup luas; 5) Mempunyai daerah belakang (hinterland) yang memenuhi syarat dan mendukung berfungsinya pelabuhan.
Pantai di sepanjang Laut Jawa, tempat tedapatnya Teluk Rembang dan Tuban, relatif lebih tinggi dan terawat daripada Jepara.Tingginya tanah di daerah Rembang Utara dan bagian yang dekat dengan Laut Jawa merupakan akibat dari munculnya tanah di wilayah itu pada masa Mio-Pliosen. Di sini terjadi dorongan pelipatan pada masa plistosin dan menyebabkan kenaikan tanah. Itulah sebabnya wilayah Rembang relatif lebih tinggi daripada wilayah lain di Pantai Utara Jawa dan mempunyai laut cukup dalam. Di Teluk Rembang sendiri terdapat sejumlah pulau karang kecil dan gundukan pasir. Nama kepulauan itu adalah Dua Bersaudara (Pulau Kembar) dan Sawalan. Sedangkan gundukan pasir itu bernama Gossa, Pasir Batu dan Pasir Besi.
Adanya pulau-pulau karang dan gundukan pasir di Teluk Rembang ini rupanya menjadikan pelindung dari ombak yang besar, sehingga kondisi laut di pantai Rembang relatif lebih tenang. Sudah barang tentu kondisiseperti ini sangat disukai oleh para pelaut yang akan membawa kapalnya berlabuh di pantai. Pantaidi sepanjang Pantai Rembang yang bisa dilabuhikapal relatif cukup luas, apabila dilihat dari eksistensi Pelabuhan Rembang sebagai pelabuhan kecil. Adapun daerah di pantai Rembang yang dapat digunakan untuk berlabuh adalah dari celah Sungai Karanggeneng ke arah timur laut sepanjang kurang lebih 73 mil dari tembok pelabuhan dengan kedalaman air sekitar 2,5-3 meter dan kerendahan dari permukaan tanah sekitar 1-0,5 kaki.
Eksistensi suatu pelabuhan tidak bisa dilepaskan, bahkan sangat bergantung pada daerah belakang (hinterland). Bagi Pelabuhan Rembang sendiri, hinterland menjadi pendukung utama aktifitas pelabuhan karena produk kayu jatinya yang sangat baik, disamping produk hasil bumi lainnya. Meskipun demikian, kayu jati buknlah satu-satunya faktor yang mempunyai pengaruh terhadap aktifitas Pelabuhan Rembang. Memang dari dulu Pelabuhan Rembang merupakan penyuplai kayu jati, terutama untuk membuat kapal. Bahkan dibawah pemerintahan Raffles, kayu jatinya berhasil bersaing dengan kayu jati dari Birma maupun Benggala. Pengaruh kayu jati bagi Pelabuhan Rembang rupanya telah menyebabkan pelabuhan ini menjadi ramai terutama bagi kapal-kapal pengangkut kayu yang beroperasi karena berbagai pesanan dari daerah lain. Di samping itu, kapal-kapal dagang yang lain tidak ketinggalan untuk melibatkan diri dalam perdagangan di sekitar pelabuhan dan pada gilirannya Pelabuhan Rembang telah berkembang menjadi pelabuhan dagang yang cukup penting.
Bagaimanapun juga kondisi sebuah pelabuhan sangat ditentukan oleh faktor-faktor geografis. Sementara itu penanganan terhadap pelabuhan dari segi geografis sangat mempengaruhi fungsi pelabuhan tersebut. Pelabuhan Rembang pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, merupakan pelabuhan dengan warisan kebesaran tradisi maritimnya. Peranan sungai menjadi salah satu faktor penentu bagi kelangsungan Pelabuhan Rembang. Hal ini disebabkan karena Pelabuhan Rembang merupakan pelabuhan muara, sehingga sngi mempunyai peranan penting sebagai penghubung antar daerah pedalaman dengan wilayah pantai.
Pada tahun 1830, kondisi muara Sungai Karanggeneng tidak sesuai untuk dimasuki kapal-kapal besar. Dengan demikian sebenarnya secara fungsional, Pelabuhan Rembang pada saat itu cocok untuk berlabuh kapal-kapal yang relatif kecil. Akan tetapi tidak berarti bahwa pross pengapalan terhadap barang-barang yang keluar masuk pelabuhan menjadi terhenti. Proses pengapalan di pelabuhan kecil memang berlangsung sangat sederhana. Kapal terletak atau membuang sauhnya agak jauh dari tembok dermaga, para kuli harus memikul barang-barang yang dimuat dan dibongkar ke dari dermaga/dinding itu melalui pasir pantai.
Kemunduran secara geografis suatu pelabuhan terjadi karena adanya endapan lumpur yang dibawa oleh sungai-sungai ke muara. Di samping itu angin musiman di Laut Jawa, secara teratur setiap hari memberikan aliran dan pasang surut dengan perbedaan ketinggian mencapai 1,20-1,80 meter, menyebabkan gerakan yang mengikis pantai.
Sampai tahun 1858, fungsi pelabuhan Rembang maupun pelabuhan-pelabuhan lain di Jawa, tetap penting untuk pengapalan produk-produk negara. Namun, pada umumnya kondisinya sangat buruk. Hal ini antara lain disebabkan oleh kondisi keuangan pemerintah Hindia Belanda yang tidak memungkinkan banyak proyek untuk memperbaiki pelabuhan sehingga banyak pelabuhan yang tidak dirawat. Faktor yang menyebabkan kerusakan suatu pelabuhan adalah cacing laut. Rupanya, cacing laut telah merusak tonggak-tonggak penguat dinding germaga dan bersama dengan air laut, terutama sepanjang tahun pada angin musim Barat Laut dengan kuat menghantam pantai, sehingga pemasangan batu menjadi rusak. Di samping cacing laut, ternyata ada juga jenis kerang yang merugikan dan merusak tonggak-tonggak jati di sepanjang pelabuhan dan pantai. Dengan demikian jelaslah bahwa letak dan dampak geografis suatu pelabuhan akan menentukan eksistensi dan dinamika dari pelabuhan itu sendiri. Sementara eksisten suatu pelabuhan sangat menentukan kedudukannya dalam jaringan perdagangan laut. Tentang hal ini bagaimana dengan Pelabuhan Rembang itu sendiri?
Selanjutnya pada masa VOC, juga tidak banyak sumber yang menceritakan tentang siapa dan bagaimana mengelola Pelabuhan Rembang Baru pada tahun 1816, diperoleh informasi singkat tentang petugas pelabuhan. Rupanya Pelabuhan Rembang yang berkedudukan sebagai Pangkalan Angkatan Laut Kolonial, sehingga para pejabat pengelola pelabuhan saat itu berkedudukan sebagai personal Angkatan Laut. Dari sumber itu disebutkan tentang jumlah pengelola pelabuhan yang terdiri dari seorang kepala pelabuhan (Havenmeester), seorang juru tulis, seorang tukang bendera, seorang juru mudi dan delapan kelasi. Dalam setahun mereka memperoleh gaji sebagai berikut:
Gaji Pengelola Pelabuhan Rembang Tahun 1816, sbb : Kepala Pelabuhan  1 org: f3.600, Juru tulis pelabuhan 1 org: f.400, Tukang bendera 1 org: f96, Juru mudi 1 org: f115,6, Kelasi 3 org: f.576. Masing-masing diberikan pertahun.
(Sumber : AVRR, tahun 1816)
Di lihat dari jumlah petugas pelabuhan dan kedudukan dari para petugas yang brfungsi ganda, maka dapat dikatakan bahwa kedudukan Palabuhan Rembang saat itu merupakan palabuhan kecil yang mempunyai aktifitas perdagangan dan pelayaran dalam skala kecil. Meskipun demikian, Pelabuhan Rembang tetap mempunyai nilai strategis yang penting bagi Pemerintah Kolonial terutama dalam kaitannya dengan eksploitasi hutan jati dan pembuatan kapal. Dari beberapa sumber yang diungkapkan oleh Frank Broeze tentang armada dagang di berbagai pelabuhan di Jawa dari tahun 1820-1850 menunjukkan bahwa Pelabuhan Rembang merupakan salah satu pelabuhan yang secara rutin  banyak dikunjungi oleh para pedagang.
Bahkan dalam klasifikasi pelabuhan yang dolakukan oleh Broeze, Pelabuhan Rembang tidak termasuk dalam kategori sebagai pelabuhan kecil (minor ports). Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa dari data- data yang disajikan oleh Broeze masih terbatas pada data-data tentang jumlah kapal yang mengunjungi Pelabuhan Rembang. Sedang tentang beberapa tonase atau bobot dari kapal-kapal itu tidak diunkapkan, sehingga masih bisa dipertanyakan apakah dari jumlah kapal yang datang ke suatu pelabuhan bisa dijadikan indikasi tentang besar kecilnya suatu pelabuhan. Namun yang jelas bahwa pada masa Kolonial, Pelabuhan Rembang menjadi salah satu Pelabuhan kolonial, dalam arti kebijakan terhadap pengelolaan suatu pelabuhan sangat ditentukan oleh kepentingan Kolonial Belanda.
Pelabuhan Rembang bisa disebut sebagai pelabuhan kecil, maka tugas kepala Pelabuhan Rembang diserahkan kepadaKomisi Penerima (Komieden – Ontvangers). Sebenarnya tugas Komisi Penerima ini adalah melakukan pengawasan terhadap lalu lintas barang, tetapi sekaligus juga berfungsi sebagai kepala pelabuhan di Rembang.
Dalam hal kebutuhan bagi tersedianya  pegawai douane yang bertugas di bidang pengawasan dan berkaitan dengan kepentingan kas negara, telah diangkat sebagai Komisi Pengawas. Bagi Pelabuhan Rembang,tugas komisi pengawas ini adalah mengurusi cukai ekspor-impor yang berlangsung di pelabuhan. Tentang berapa jumlah pegawai dalam komisi pengawas ini tidak banyak keterangan yang diperoleh. Hnya saja, dilaporkan bahwa tugas pengawasan yang dilakukan oleh komisi ini tidaklah mencukupi untuk pengawasan di pelabuhan dan sekitarnya, terutama untuk mengawasi penyelundupan kayu jati maupun candu. Untuk mengatasi hal itu, pada tahun 1873 telah diangkat seorang pejabat baru yang membantu Komisi Pengawas. Pejabat itu disebut “Penguji” dengan tugas utama menilai jumlah cukai terhadap barang-barang ekspor-impor di pelabuhan.
Sukses tidaknya aktivitas sebuah pelabuhan, salah satunya ditentukan oleh faktor keamanan bagi kapal-kapal yang kan berlabuh. Faktor keamanan ini tidak saja ditentukan oleh kondisi geografis, tetapi juga ditentukan oleh keamanan penguasa pelabuhan dan pantai untuk memberikan jaminan keamanan bagi kapal beserta barang-barang yang dibawanya. Menurut Chaudhuri, faktor keamanan ini memang penting bagi kelangsungan hidup sebuah pelabuhan. Para pedagang akan selalu singgah apabila dapat melakukan transaksi dagang, pengapalan maupun dalam hal yang berkaitan dengan keuangan dengan kredit secara aman di pelabuhan itu. Satu lagi ysering dikeluhkan oleh seorang pedagang adalah bahwa kapal-kapal sering dirompak, sehingga jaminan keamanan wilayah perairan suatu pelabuhan pun sesungguhnya sangat menentukan eksistensi sebuah pelabuhan.
Bgi Pelabuhan Rembang sendiri, usaha untuk memberikan semacam “Jaminan” keamanan perairan telah dilakukan oleh pemerintah. Patroli laut oleh kapal-kapal pengawas selalu dilakukan oleh para petugas Pelabuhan Rembang. Kapal-kapal pengawas ini berkedudukan di Pelabuhan Rembang dan mempunyai tugas mengamankan wilayah Perairan Rembang dari gangguan perompak dan perdagangan gelap. Memang, secara khusus tugas kapal pengawas ini dimaksudkan untuk memberi jaminan keamanan terhadap kapal-kapal yang datang atau pergi melalui Pelabuhan Rembang. Akan tetapi, usaha ke arah itu sedikit banyak telah dilakukan dan paling tidak telah mengurangi tindak kriminalitas di Perairan Rembang.
Pada tahun 1830, tugas pengamanan terhadap perairan dan Pelabuhan Rembang dilakukan oleh beberapa perahu saja, sehingga tidaklah mencukupi untuk memerangi sejumlah besar perompak pantai atau memberantas perdagangan gelap. Mengingat panjang Pantai Rembang sekitar 80 paal, menjadikan perahu-perahu kecil tidak mengalami kesulitan untuk mendarat di pantai atau masuk ke sungai-sungai yang bermuara di laut, dan bisa berbuat sesukanya. Untuk ukuran saat itu, kapal pengawas yang dapat menjaga secara teratur atas wilayah Perairan Pantai Rembang paling tidak diperlukan tiga buah kapal yang berukuran besar. Rupanya usaha Residen untuk memperoleh fasilitas kapal besar dari pemerintah (Gubernur Jenderal) dapat terpenuhi. Pada tahun 1834 telah bertugas tiga buah kapal tempur yaitu kapal nomor 1, 12 dan 32. Kapal-kapal itu bertugas menjaga dan mengamankannya dari para perompak. Untuk kapal tempur nomor 1 dan 12 bertugas melakukan patroli laut, sedangkan kapal tempur nomor 32 lebih banyak berkadudukan di pelabuhan. Tampaknya terjadi penurunan intensitas perampokan di Pantai Rembang, meskipun tidak diperoleh informasi tentang jumlah peristiwa perampokan yang terjadi di wilayah Perairan Rembang. Pada tahun 1845 jumlah kapal pengawas di Perairan Rembang turun menjadi dua yaitu kapal pengawas no. 12 dan 17. Jumlah ini tetap tidak memadai, meskipun dirasakan mempunyai manfaat yang sangat besar. Rupanya tugas kapal pengawas di Perairan Hindia Belanda ini dilakukan secara bergiliran dan sesuai dengan kebutuhan atau prioritas yang harus ditangani oleh wilayah tertentu. Hal ini terbukti dari sering bergantinya kapal pengawas yang bertugas di Rembang. Bahkan ketika tahun 1852 terjadi penyelundupan senjata api di Kerajaan Jambi, oleh pemerintah kolonial dikirimkan empat kapal tempur yang diambil dari pangkalan Pelabuhan Cirebon, Jepara, Rembang dan Batavia untuk menumpas penyelundupan ini.